Bubur Pedas Warisan Kesultanan Deli

 

Hari ini seperti biasanya, ibu menyuruhku membantunya memasak. İbu membuat arsik ikan dan sayur daun ubi tumbuk. Namun kali ini agak berbeda. Usai menghidangkan makanan dan makan siang, ibu kembali berselancar di dapur. Aku penasaran. Kira-kira apa lagi yang mau ibu buat ya? Dengan sangat penasaran aku menghampiri ibu tampak membagi-bagi beras yang ada di tempat penyimpanan beras kedalam beberapa wadah.

“Ibu mau buat apa?” aku bertanya sambil memperhatikan ibu.

“Ibu mau buat bubur pedas,” jawab ibu.

“Bubur pedas itu apa Bu? Apakah bubur pedas itu seperti bubur yang dijual di warung makan dengan suwiran ayam di atasnya, Bu?” tanyaku masih penasaran.

“Bukan, Hartinah. Bubur pedas itu berbeda dengan bubur yang biasa dijual. Kalau yang biasa dijual itu namanya bubur ayam,” jawab ibu.

Aku ber-oh panjang. “Memangnya apa yang membedakan bubur pedas dengan bubur biasa, ibu?”

“Bubur pedas adalah salah satu makanan khas Melayu. Dinamakan bubur pedas bukan karena cita rasanya yang pedas ya. Bubur ini dinamakan bubur pedas karena efeknya yang menghangatkan tubuh saat kita memakannya, karena racikan bumbunya yang banyak. Dahulunya bubur ini merupakan makanan khas kesultanan Deli. Biasanya bubur pedas dijadikan santapan berbuka puasa di lingkungan kesultanan Deli. Namun sekarang bubur pedas bisa disantap oleh berbagai kalangan seiring perkembangan zaman. Nah, kalau bubur ayam yang biasa dijual itu memang cuma beras yang dimasak hingga lembut menjadi bubur dan diberi beberapa tambahan pelengkap diatasnya,” kata ibu menjelaskan.

“Lalu, apakah cara membuat bubur pedas mudah Bu?”

“Hmm..kalau dibilang mudah tidak juga. Jadi beras yang dipakai untuk membuat bubur pedas adalah beras yang sudah dibumbui dengan 44 bahan tumbuhan alami yang diendapkan dan didiamkan  dulu selama sekian bulan. Setelah itu barulah dibuat seperti bubur dengan beberapa rempah-rempah lain lagi.”

“Panjang sekali prosesnya Bu,” komentarku terkejut.

“Karena itulah jarang sekali ada orang yang membuat bubur pedas yang asli. Tapi hambatannya bukan itu saja. Bumbu-bumbu untuk membuat bubur pedas banyak yang sulit didapatkan, contohnya seperti daun kentut-kentutan. Bahkan di Medan saja sangat susah untuk mendapatkan semua bumbunya. Karena tidak semua orang menanam bumbu-bumbunya.”

Aku membulatkan mataku tanda bahwa aku tertarik saat mendengar penjelasan ibu. “Unik sekali! Kenapa dinamakan daun kentut-kentutan Bu?”

“Menurut cerita yang beredar, dinamakan daun kentut-kentutan karena aromanya yang bau seperti buang angin,” jawab ibu.

“Tapi kenapa tiba-tiba ibu membuat bubur pedas. Memangnya ada acara apa di rumah?” tanyaku saat melihat ibu mencampurkan bumbu-bumbu bubur pedas dengan tong beras yang besar.

“Beberapa bulan lagi ramadhan tiba. Sejak dulu bubur pedas disajikan untuk berbuka puasa dengan tambahan anyang pakis di atasnya. Biasanya di Masjid Raya mereka akan menyediakan bubur pedas sebagai salah satu menu berbuka puasa,” jawab ibu.

“Berarti kita harus nunggu selama beberapa bulan agar beras dan bumbunya meresap?” tanyaku memastikan. Ibu menganggukkan kepalanya. Aku membantu ibu mencampurkan beras dengan bumbu-bumbu yang sudah ibu persiapkan. “tapi kenapa porsinya sangat banyak Bu? Kita kan tidak mungkin menghabiskan semuanya,” kataku lagi.

“Memang tidak semuanya akan kita habiskan, sayang. Saat Ramadhan tiba kita bisa membagi-bagikan bubur pedas ini kepada tetangga-tetangga kita.”

Aku tidak sabar menunggu Ramadhan untuk menyaksikan beras yang sudah kami bumbui beberapa bulan lalu. Terhitung semenjak kami membumbui beras, aku sering melihat kalender untuk menunggu bulan ramadhan.

Hingga akhirnya Ramadhan pun tiba. Ibu mengatakan akan membuat bubur ba'da ashar sehingga berdekatan dengan jadwal ifthar. Aku begitu bersemangat membantu ibu mengolah beras yang beberapa bulan lalu sudah kami bumbui dan diendapkan. Beras itu kemudian diolah dan dimasak menjadi bubur pedas. Proses pembuatan bubur pedas yang asli sangat panjang dan memerlukan banyak bahan. Setelah beberapa bulan diendapkan dan didiamkan, beras akan berubah warna menjadi warna kuning.

Ibu memasukkan beras yang sudah dibumbui kedalam dandang yang sangat besar. Lalu seperti biasa, beras akan dimasak dan diaduk-aduk hingga lembut dan mengental. Agar pancinya tidak gosong, usahakan untuk terus memantau buburnya dan diaduk-aduk. Ibu memintaku untuk mengaduk buburnya. Sementara ibu menyiapkan bahan-bahan pelengkap lainnya untuk bubur pedas. Beberapa menit kemudian berasnya yerlihat mengental dan mulai melunak. Sesekali aku meminta tolong pada ibu untuk menggantikan tugasku mengaduk bubur karena tanganku mulai kebas.

Sekitar satu jam, ibu menyuruhku mematikan kompor. Kami menyiapkan banyak mangkuk untuk diisi bubur yang sudah siap masak. Setelah buburnya dimasukkan ke mangkok, ibu menyiramnya dengan kuah kaldu seafood dan memberi tambahan kepiting. Kita bisa memakai udang sebagai pengganti kepiting.

Tidak terasa ternyata sudah jam enam sore lebih. Sebentar lagi waktu berbuka akan segera tiba. Ibu memintaku segara membagikan bubur pedas yang sudah siap saji ke rumah tetangga-tetangga kami. Bulan Ramadan ini tidak hanya keluarga kami saja yang berbagi kepada tetangga-tetangga sekitar, termasuk anak-anak kost yang tinggal satu gang dengan kami. Beberapa tetangga juga turut membagikan makanan berbuka puasa kepada ke rumah. Namun bedanya mereka memberikan makanan kekinian untuk kami dan tetangga lainnya.

“Bu, kenapa kita tidak memberikan makanan yang lain saja kepada tetangga kita seperti yang dilakukan tetangga yang lainnya?” tanyaku pada ibu usai siap membagikan bubur pedas tadi.

“Tidak apa-apa Hartinah. Ibu ingin kita tidak hanya sekedar membagikan bubur pedas ini kepada tetangga kita. Lebih dari itu ibu juga ingin mengenalkan kepada mereka bahwa Sumatera Utara itu luas dengan segala macam keberagaman budaya dengan berbagai suku etnis yang tinggal disini. Sumatera Utara tidak hanya terkenal dengan wisatanya saja, namun juga kulinernya. Agar mereka bisa mengenal Sumatera Utara lebih luas lagi dan tidak hanya sekedar rumah perantauan,” jawab ibu sambil membelaiku.

Aku tersenyum. Ibu benar. Kita boleh merantau dan menuntut ilmu sejauh mungkin bahkan hingga ke ujung dunia, namun kita tidak boleh lupa di mana kita dilahirkan dan kampung halaman kita. Sepatutnya kita juga harus bangga dengan budaya kita sendiri dan ikut mengenalkannya kepada seluruh Indonesia bahkan dunia.

 

Lukisan Senja

 


“Eh, apa kalian sudah tahu kabar terbaru tentang Pak Zass?” samar-samar aku mendengar suara seorang wanita. Aku penasaran saat mendengar nama ayahku disebut. Maka aku diam-diam menguping pembicaraan itu. Saat itu aku sedang menunggu adikku membeli roti di toko roti dekat rumah.

“Hah? Pak Zass suami bu Aya?” 

“Iya. Kabarnya dia sudah bercerai sekarang.”

"Loh, baru tahu? Dia kan memang sudah lama bercerai.."

Deg!

Seketika jantungku berdetak kencang tak beraturan. Aku sangat terkejut mendengarnya. Ayah dan ibu sebenarnya sudah bercerai sejak lama? Kenapa aku tidak diberi tahu? Padahal selama ini aku melihat hubungan mereka baik-baik saja dan tidak ada masalah. Apa yang mereka sembunyikan dariku selama ini? Kenapa mereka bercerai? Apakah kabar ini benar, atau hanya rumor semata.

Ribuan pertanyaan menghantui pikiranku. Aku tidak terima jika ayah dan ibu bercerai. Ibu harus menjelaskan kepadaku tentang perceraian ini. Masih dengan rasa gugup aku menyelesaikan transaksi di kasir. 

Usai membayar roti yang dibeli adikku, aku langsung pulang bersamanya. Sambil terus mengayuh sepedaku, pikiranku masih dipenuhi gosip tetanggaku. Karena melamun, aku bahkan hampir tertabrak mobil. Aku kesal saat pengemudi mobil itu mencaciku. Baiklah, aku akan menunggu sampai ibu pulang kerja. 

***

"Apa benar rumor bahwa ibu dan ayah bercerai?" tanyaku hati-hati di kamar ibu saat ibu sudah pulang kerja. Saat itu Jem sedang tidur siang di kamarnya. Aku tidak ingin dia mendengar pembicaraan yang tidak cocok untuk anak seusianya.

Ibu menatapku dengan tenang. “Kamu tahu darimana, sayang?” ibu balik bertanya.

“Dari mulut tetangga-tetangga kita. Apa itu benar, ibu?” tanyaku tidak sabar. 

Ibu tersenyum tipis. "Ibu akan memberitahu Gilly. Tapi tidak sekarang, Sayang," kata ibu.

"Kenapa ibu? Kenapa tidak sekarang?" kataku tak sabar.

"Belum waktunya, Sayang. Ibu akan memberitahumu. Ibu janji. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah itu sekarang. Kita akan pegi keluar nanti malam. Jika kau ingin tahu, kau harus sabar menunggu. Mengerti?" ucap ibu sambil mendekatkan wajahnya dan membelai rambutku. Aku menghela nafas. Kesal.

Usai azan maghrib berkumandang, ibu menyuruh kami bersiap-siap untuk pergi setelah selesai shalat. "Kita mau kemana, Bu?" tanya adikku Jem.

"Ibu mau mengajak Jem ke rumah nenek," jawab Ibu.

Mendengar rumah nenek, Jem bersorak kegirangan. "Horee!! Nanti aku boleh menginap di rumah nenek, kan Bu?" tanya Jem adikku.

Ibu tersenyum. "Nanti kita tanya Nenek, ya," jawab Ibu. Jem mengangguk dan bersiap-siap, begitu juga denganku. 

Rumah nenek adalah tempat favorit untuk berlibur. Karena rumah nenek sangat luas dan memiliki aneka ragam permainan. Di rumah nenek juga banyak bermacam tanaman dan bunga. Suasana di rumah nenek masih asri seperti di desa. Nenek mendirikan sebuah pondok belajar di depan rumahnya. Ia akan mengajar anak-anak di lingkungan sana dengan bantuan tante Nani, adik ayah. Saat anak-anak sedang belajar, nenek akan menyuruh kami bergabung dan belajar disana. 

Biasanya ayah akan menemui kami di rumah nenek untuk mengajak aku dan adikku pergi bertiga bersama ayah. Kami menyebutnya waktu khusus bersama ayah, karena kami juga punya waktu khusus bersama ibu. Namun saat ini ayah sedang keluar kota untuk mengurus perusahaannya.

"Are you ready?" tanya ibu beberapa menit usai kami selesai shalat.

"Ya!" jawab kami semangat. 

Ibu kemudian pergi ke garasi rumah dan menyalakan mesin mobilnya. Aku dan Jem mengambil tas kami dan duduk di kursi tengah. Jem membawa beberapa robot buatannya di tas untuk dimainkan di rumah nenek. Sementara ibu menyarankanku untuk tidak terlalu membawa banyak barang karena ibu akan membawaku ke tempat lain. Akhirnya aku membawa beberapa buku cerita yang baru saja kubeli untuk kukonsumsi. Karena tas selempengku cukup besar, aku bisa membawa beberapa buku. Mobil melaju meninggalkan rumah kami. Sepanjang jalan aku mulai membaca satu-persatu buku ceritaku. Ibu memantau kami dari kaca mobil.

“Gilly, jika kau membaca disaat gelap, itu bisa merusak matamu. Penerangan lampu mobil tidak cukup untuk membaca,” kata ibu memperingatkanku.

Aku mengerti maksud Ibu.“Baik Bu,” kataku dengan berat memasukkan kembali buku-bukuku kedalam tas.

Beberapa menit kemudian kami tiba di rumah nenek. Saat itu nenek sedang mengajar anak-anak disekitarnya mengaji. “Nenek!!” seru kami saat turun dari mobil. Kami berlari menghampiri nenek dan memeluk tubuh renta ibu dari ayahku itu.

Nenek membalas pelukan kami. Aku kemudian menyalami punggung tangan tante Nani yang sedang mengajar disamping nenek.

“Ayo sini gabung belajar, Jem, Gilly,” kata tante Nani. 

“Baik Tante,” balas kami. Kami langsung bergabung dalam lingkaran kelompok.

Usai mengunci mobilnya, ibu menghampiri kami dan ikut bergabung di pondok belajar nenek. Ibu menyalami dan mencium punggung tangan nenek dengan takzim. Nenek menyambut ibu dengan hangat. Kemudian ibu bersalaman dengan tante Nani. 

Ibu dan tante Nani berbicara sebentar. Kemudian ibu menghampiri nenek lagi dan terlihat berbincang dengan nenek. Kulihat nenek mengangguk beberapa kali.

“Kemarilah Gilly,” kata nenek padaku. Aku mengangguk dan menghampiri nenek dan ibu.

“Ada apa Nek?” tanyaku saat sudah berada di dekat nenek.

"Sini peluk nenek cucu besar," kata nenek merentangkan kedua tangannya lalu mencium dan meremas rambutku.

"Aduh, nenek membuat rambutku acak-acakan."

"Itulah mengapa kau sudah besar. Padahal pelukan seperti ini yang selalu kau suka dari nenek saat kau belum setinggi ini."

“Gilly, ayo pergi bersama Ibu,” kata ibu padaku.

“Kemana Bu?” tanyaku.

“Kita mau beli makan malam untuk nenek dan tante,” jawab ibu.

Ibu mendekati Jem. 

“Jem disini dulu ya, biar ibu dan kak Gilly yang pergi beli makanannya,” kata ibu pada Jem. Jem mengangguk-angguk.

"Ayo, Jem. Kita bermain." Ajak nenek dan tante Nani pada Jem.

Ibu dan aku langsung naik mobil. Sepanjang jalan aku hanya diam. Aku sedikit kesal pada ibu karena tidak langsung menjawab pertanyaanku. 

“Bagaimana harimu di sekolah, Gilly? Apa menyenangkan?” tanya ibu sambil terus menyetir. 

“Biasa saja,” jawabku datar.

“Kelihatannya kau masih kesal? Apa karena pertanyaanmu tadi siang?” tanya ibu dengan lebih lembut. Aku menyedekapkan tanganku dan membiarkan pertanyaan ibu mengambang tanpa jawaban. “Baiklah, sepertinya kau perlu waktu untuk memendam kekesalanmu,” kata ibu lagi. 

Beberapa saat kemudian ibu memberhentikan mobilnya di sebuah restaurant. Aku mengikuti ibu turun dari mobil. Ia menggamit tanganku masuk kedalam restaurant dan duduk di sebuah kursi. 

"Kamu mau pesan makanan apa, Gilly?" tanya ibu usai meminta buku menu pada seorang pelayan. Aku melihat-lihat sebentar dan memesan makananku. Ibu juga memesan makanan dan minuman. Setelah pelayan restoran itu pergi, ibu menatapku tenang sambil tersenyum tipis.

"Sambil menunggu pesanan datang, apa kau bersedia kita bicarakan sekarang terkait pertanyaanmu tadi siang Gilly," kata ibu.

“Bisa ibu,” jawabku. Kekesalanku mulai berkurang.

"Ibu tahu bagaimana tidak nyamannya dirimu saat tetangga membicarakan tentang ayah dan ibu. Tapi yang dikatakan mereka memang benar, sayang. Ayah dan ibu sudah lama bercerai," kata ibu lembut.

Aku sangat terkejut. Aku tidak percaya dengan apa yang barusan kudengar. Aku berharap bisa mengulang waktuku kembali dan tidak akan pernah berhadapan dengan saat seperti ini. Aku menggigit bibirku. Mimpi buruk yang selama ini kubuang jauh-jauh sekarang malah  menjadi kenyataan. Aku melihat wajah ibu yang menatapku penuh arti. 

"Tapi sejak kapan Bu?" Tanyaku

Adalah wajar pertanyaan yang menggelayut di pikiranku. Aku tak pernah merasa ada perubahan baik dari ayah maupun ibu. Rasanya sukar kupercaya kenyataan perceraian keduanya.

"Lima tahun yang lalu. Persis saat ayah tinggal di luar kota mengurus perusahaannya..

Semenjak itu pertemuan kita dengan ayah hanya di rumah nenek," lanjut Ibu tenang. 

Bodohnya aku yang tak sadar bahwa ada yang berubah saat itu. Awalnya aku sempat bertanya dalam hati kecilku kenapa ayah tidak pernah lagi pulang ke rumah. Kufikir Ayah hanya pulang bertemu kami di rumah nenek supaya ia bisa mengefisienkan waktu bersama kami sekaligus mengunjungi ibunya.

"Kalian pandai membohongi aku dan Jem," teriakku pelan.

Aku membuang wajahku dari pandangan ibu. Tiba-tiba aku merasa sangat marah pada ayah dan ibuku. Aku merasa sangat membenci mereka. Ingin rasanya aku memuntahkan amarahku di saat ini juga. Namun, aku tahu hal itu sangat tidak beretika dan mengganggu ketenangan umum. Urusan keluarga bukan urusan publik, prinsipku selalu. 

Aku menahan diri untuk tidak menangis. Aku harus bisa mengontrol emosiku saat ini. Aku harus tegar dihadapan ibu. Aku tidak ingin ia memelukku saat tahu aku terluka. "Kenapa ayah dan ibu bercerai?" tanyaku perlahan.

"Ada banyak hal yang terjadi saat kau dan Jem masih kecil. Ibu dan ayah tidak bisa mempertahankan hubungan kami sebagai suami istri. Tidak untuk saat itu," jawab ibu. 

“Kenapa? Kenapa ibu tidak bisa bertahan!” kataku marah.

“Bisa jadi sesuatu yang kita benci ternyata baik untuk kita, Gilly. Ayah dan ibu tidak bisa mempertahankannya karena suatu hal. Jika kau sudah lebih besar dari sekarang, kau pasti bisa mengerti keadaan ayah dan ibu saat itu.”

“Tapi perceraian menunjukkan bahwa ibu tidak bisa membangun rumah tangga dengan baik,” dalihku.

“Pemikiran seperti itu belum tentu benar, Sayang. Ada kalanya sebuah hubungan tidak bisa dipaksa untuk terus berdiri,” balas ibu. 

"Bukankah perceraian adalah perkara yang dibenci Allah?" cecarku.

"Kau benar tapi perceraian juga dibolehkan," kata ibu.

“Apakah berarti hubunganku dengan ayah dan keluarga ayah juga terputus?” tanyaku lagi.

“Tidak, Gilly. Lima tahun ini hubunganmu dengan keluarga ayah baik-baik saja, bukan? Perceraian hanya memutuskan status suami istri dan kewajiban yang sebelumnya diwajibkan. Ayah tetaplah ayah kalian, dan ibu tetaplah ibu kalian meski kami sudah berpisah. Ibu tidak membatasi dan melarang kalian jika ingin berjumpa dan tinggal bersama ayah. Meskipun ayah dan ibu bercerai, bukan berarti kita juga memutuskan tali silaturahim terhadap keluarga ayah. Kamu lihat ibu, kan? Bagaimana ibu tetap menjalin hubungan baik dengan ibu dari ayah dan saudara-saudara ayah. Perceraian tidak semerta-merta membuat kita harus membenci salah satu pihak.”

“Kenapa ibu baru memberitahuku sekarang?”

“Karena saat ini kau sudah baligh. Kau sudah dewasa dalam pandangan agama. Kau sudah mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk. Karena Jem masih terlalu kecil untuk tahu hal ini, ibu minta kau merahasiakannya padanya. Semua akan terbongkar saat sudah masanya, sayang,” jawab ibu lagi. Ibu masih menatapku dan menunggu jawabanku.

“Baik ibu,” kataku mengangguk. 

Sejatinya aku tidak bisa melaksanakan pesan ibu dengan baik. Aku masih tetap tidak bisa melupakan status bahwa ayah dan ibuku bercerai. Aku masih mempunyai sisa-sisa kemarahanku pada ayah. Kenapa ayah tidak menguatkan ibu dan mempertahankan hubungan mereka? 

Suatu hari ayahku video call dengan kami. Adikku dengan riangnya terus menelpon ayahku dan bercerita mengenai hari-harinya. Aku membiarkan adikku menelpon ayah. Toh aku sedang tidak ingin melihat ayah lagi. Walaupun ibu memaksaku untuk menelpon ayah walaupun sebentar saja. 

“Gilly, apa kau sedang ada masalah?” tanya ibu padaku di kamar saat Jem sedang menelpon ayah di kamarnya. Aku menggeleng kuat. “kenapa kau tidak mau menelpon ayah?”

“Aku sedang tidak mau, bu. Itu saja.”

“Apa pembicaraan kita semalam mempengaruhi sikapmu hari ini pada ayah?” ibu kembali bertanya. Aku mengelak. Namun bukan ibu namanya jika langsung percaya. Ibu menghadapkan wajahnya tepat di wajahku. “Ibu pernah berkata padamu kan bahwa perceraian ayah dan ibu hanya memutuskan status kami sebagai suami istri. Bukan berarti kalian harus saling membenci salah satu pihak. Ayah bekerja banting tulang untuk menafkahi kalian. Meskipun sudah bercerai, ayah tetap menjalankan tugasnya sebagai ayah yang baik. Ia tetap memberikan kalian nafkah,  mengajak kalian pergi, membelikan semua kebutuhan kalian dan lainnya. Kau tidak boleh membenci ayah hanya karena ini. Besok ayah akan pulang dan berencana mengajak kau pergi bersamanya. Siapkan pakaian terbaikmu untuk pergi bersama ayah. Dan jangan lupa untuk minta maaf pada ayah. Walau bagaimanapun, ia tetaplah ayahmu yang telah berjuang untukmu,” kata ibu membelaiku.

“Tapi bu..” aku hendak protes.

Ibu meletakkan telunjuknya di bibirku. “Pikirkan kata-kata ibu, sayang,” kata ibu. Aku diam.


***

“Gilly, kamu kenapa? Akhir-akhir ini kulihat kamu tidak bersemangat?” suatu hari Reema sahabatku di kelas bertanya.

“Aku baik-baik saja Reem,” jawabku.

“Apa kau ada masalah dengan keluargamu?” tanya Reema hati-hati.

Aku terkejut dan menatap Reema tajam. Reema terlihat sungkan. “Apa maksud perkataanmu? Memangnya ada apa dengan keluargaku memangnya?” tanyaku dengan nada tidak suka.

“Maaf, aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu. Aku hanya mencoba menerka. Karena kau kelihatan tidak bergairah,” jawab Reema. 

Aku menatap Reema. Dia memang terlihat tulus tanpa maksud lain. Karena itu aku senang berteman dengannya. Saat jam istirahat tiba, Reema mengajakku makan bersama. Aku mengikutinya ke bangku taman. Ini adalah tempat favorit bagi kami. 

"Maafkan sikapku padamu tadi Reema," kataku mengawali pembicaraan kami. 

"Tidak mengapa Gilly. Terus terang sikapmu tadi mengingatkanku pada aku yang dulu saat pertama kali tahu ayah dan ibuku bercerai." jawab Reema. lalu Rema bercerita panjang lebar tentang keluarganya.

Dari ceritanya aku mengetahui bahwa Reema tinggal bersama ibu dan ayah tirinya. Ibu Reema menikah lagi karena ibu dan ayahnya bercerai. “Reema, apa kau menyayangi ayah tirimu?”

“Ya, aku menyayangi ayah tiriku walaupun ia bukan ayah kandungku,” jawab Reema.

“Apa kau tidak merasa kasih sayang ayahmu berbeda dengan anak kandungnya sendiri?” tanyaku lagi.

“Alhamdulillah ayah tiriku tidak begitu. Ayah tiriku baik dan adil kepada aku dan saudara-saudara tiriku.”

“Apa dulu saat ibumu menikah, kau langsung menerimanya menjadi ayah sambungmu?”

Reema tampak berfikir sejenak sambil bernostalgia. “Ibu memberi pemahaman kepadaku tentang ayah sambungku. Sebelum menikah lagi ibu beberapa kali mengenalkanku pada ayah tiriku dan anak-anaknya. Aku beberapa kali datang ke rumah ayah tiriku. Saat ingin menikah lagi, ibu menanyakan pendapatnya padaku karena saat itu aku dinilai sudah cukup dewasa. Aku awalnya menolak. Kau tahukan, aku masih terbayang-bayang cerita ibu tiri Cinderella. Namun, lama kelamaan aku mulai menerimanya sebagai ayah tiriku setelah kulihat aku diterima dengan baik olehnya dan saudara tiriku,” kisah Reema.

“Bagaimana dengan ayah kandungmu? Apa ayah tirimu melarangmu berhubungan dengan ayah kandungmu?”

“Sebaliknya Gilly. Ayah tiriku selalu mengingatkanku untuk terus berhubungan baik dengan ayah kandungku. Karena kadang aku suka berfikiran negatif tentang ayah kandungku. Ayah tiriku bahkan tak jarang mengantarkanku ke rumah ayahku. Hubungan ayah kandungku dengan ayah tiriku juga baik, mereka seperti seorang saudara. Aku senang melihatnya. 

Kalau boleh tahu Gilly, apa orangtuamu bercerai?” tanya Reema hati-hati di akhir ceritanya.

“iya Reena. Aku baru mengetahui fakta bahwa orangtuaku sudah bercerai sejak lana,” jawabku. Reema tampak terkejut.

“Oh, aku turut sedih mendengarnya. Semoga kau sabar ya, Gilly,” kata Reema merangkul bahuku.

“Aku marah pada orangtuaku, Reem. Aku masih tidak bisa menerima kenyataan kalau mereka bercerai. Aku tidak sesabar kamu yang bisa menerima takdir hidupmu!” seruku marah.

“Aku tahu perasaanmu. Kau pasti sangat terluka dan tidak bisa langsung menerimanya untuk saat-saat pertama mengetahui kenyataannya. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu, Gilly.

Perceraian orangtua bagi anak-anak adalah suatu hal yang menakutkan. Bahkan tak jarang menghancurkan kepercayaan diri dan anggapan bahwa dunia kita seolah ikut hancur. 

Tapi kau tidak boleh egois, Gilly. Situasi yang mereka hadapi pasti juga sangat sulit sehingga mereka tidak punya pilihan lain selain berpisah,” kata Reema.

“Kau mengatakan hal yang sama seperti ibuku,” komentarku.

“Maafkan aku jika kau tersinggung.”

“Tidak apa. Ceritalah Reema, aku ingin mendengar pengalamanmu,” pintaku.

“Menurutku, kau tidak seharusnya menyalahkan salah satu pihak karena masalah pribadi mereka. Bukannya ayahmu tetap bersikap baik padamu?”

“Kau benar, Reem. Tapi bukan hal yang mudah melupakan semua ini.”

“Bagaimanapun dia adalah ayahmu. Ayah kandungmu. Kau memiliki kewajiban untuk berbuat baik kepadanya. Perceraian adalah sebuah sebuah situasi dan pilihan. Sama halnya dengan bagaimana kita menyikapi situasi perceraian. Tidak ada kehidupan yang hancur kecuali bila kita ikut memilihnya,” nasihat Reema.

“Terimakasih Reem,” balasku sambil memeluknya erat.

***

Sebuah mobil hitam besar yang kukenal berhenti di parkiran sekolah. Seorang pria gagah keluar dari mobil dengan menggandeng tangan adikku. Itu adalah ayah. Jem melambai-lambai ke arahku sambil memanggil-manggilku berulang kali. Aku berjalan ke arah mereka.

“Hai Gilly Sayang,” sapa ayah.

“Hai ayah,” balasku singkat sambil mencium punggung tangan ayah.

“Setelah mengantar Jem bersama ibu, ayah akan mengajakmu pergi berdua bersama ayah ke suatu tempat. Ayah sudah bilang pada ibu, dan ibu mengizinkan. Kau mau kan?” kata ayah.  Aku ingin menolak tawaran ayah. Namun ibu pasti akan menyuruhku untuk tetap ikut. Baik, untuk sesaat, lupakan apa yang telah terjadi.

“Jem tidak ikut?” timbrung Jem.

“Hari ini ibu akan membawa Jem pergi. Besok ayah akan membawa Jem pergi berdua tanpa kakak. Hari ini giliran kakak dulu,” kata ayah memberi penjelasan.

“Ooh, begitu. Baik, terimakasih ayah,” kata Jem senang.

Usai mengantar Jem ke rumah dan berganti pakaian, ayah langsung tancap gas ke suatu tempat tanpa mengatakan apapun padaku. Sepanjang jalan aku hanya diam sambil memotret-motret jalanan yang kulalui. Sesekali ayah bertanya mengenai keseharianku. Kemudian ayah memarkirkan mobilnya di lapangan merdeka di depan stasiun kota. Di dalam lapangan merdeka ada titi gantung. Dari dulu sampai sekarang tempat ini menjual banyak buku bekas yang masih layak dengan harga murah. Aku sangat senang mencari buku di tempat ini karena harganya yang murah membuatku bisa memilih banyak buku. Ayah membolehkanku mengambil buku yang kuinginkan. Usai membeli buku, ayah mengajakku masuk ke sebuah restorant di tepi lapangan merdeka. Ayah ternyata telah memesan sebuah ruangan tertutup di restaurant itu. Kami memesan makanan dan minum.

“Ibu cerita bahwa kau mengetahui kebenaran antara ayah dan ibu.” kata ayah memulai pembicaraan sambil menatap wajahku persis seperti yang dilakukan ibu saat bicara padaku. Aku diam. Namun kubenarkan dalam hati.

"Maafkan ayah. Harusnya kau mengetahui hal itu dari ayah langsung bukan dari orang lain."

“Gilly, apakah kau tahu bahwa ibu sangat terluka dengan sikapmu akhir-akhir ini?” kata ayah lembut. “Bukan ini yang kami harapkan darimu, Sayang. Dengan menjelaskan semua ini padamu, ayah dan ibu agar kau mengerti dan tidak menyangka kami berbohong padamu. Ayah terutama ibu mengharapkan kau tumbuh sebagaimana Gilly yang cerdas dan selalu ceria dimanapun walau kami bercerai. Perceraian bukan berarti harus menjadikanmu anak yang broken home. Lihat ibu. Wanita itu tetaplah ibumu meskipun kami sudah bercerai. Ibu sudah bersusah payah melahirkanmu dan menjagamu hingga sebesar ini. Kau tidak boleh membenci ibu hanya karena perceraian ini. Setelah ini, temui ibu. Minta maaf padanya atas kesalahan yang pernah kau lakukan. Kau mengerti kan, Gilly?” kata ayah.

“Tapi aku tidak membenci ibu, aku hanya benci ayah!” seruku sambil berdiri dari kursiku.

“Kau membenci ayah karena semua ini? Kalau menurutmu ayah yang salah, ayah minta maaf padamu, Sayang. Ayah tidak pernah menyangka kau seterluka ini.”

“Aku benci ayah! Ayah tidak pernah mengerti perasaanku. Ayah pikir luka ini akan hilang begitu saja dengan ucapan maaf ayah?!” kataku dengan nada tinggi. Aku meluapkan emosiku saat itu juga dan membiarkan semua yang kupendam selama ini kuungkapkan.

Kukira ayah akan marah. Namun ayah diam sambil menungguku selesai mengungkapkan perasaanku. Ayah bahkan tersenyum padaku. “Kemari, Sayang. Peluk ayah, Nak,” kata ayah lembut. Aku menolak dan mundur beberapa langkah dari ayah. “baiklah. Kalau Gilly belum mau, ayah yang akan menghampiri Gilly,” kata ayah sambil menghampiri dan memelukku erat. 

Aku tidak bisa menahan tangisku saat itu. “Aku benci ayah!” kataku berulang kali di tengah isakanku.

“Kau boleh membenci ayah, Sayang. Tapi ayah tidak akan pernah membencimu. Kau adalah anak perempuan ayah,” kata ayah sambil mengelus rambutku. Tangisku semakin pecah. Kubenamkan wajahku dalam pelukan ayah dan menangis sejadi-jadinya. Beberapa saat kemudian tangisku reda. Perasaanku mulai tenang. 

“Aku minta maaf, ayah.” ucapku dengan isak yang mulai mereda.

“Ayah juga minta maaf karena belum bisa menjadi ayah yang sempurna bagimu,” balas ayah.

Hari merangkak senja. Dan senja itu menjadi senja yang berkesan untukku dan ayah. Kugandeng tangan ayah menuju mobil  dan aku mulai bisa menerima kenyataan bahwa ayah dan ibuku sudah bercerai. Aku juga mulai menghilangkan pandangan negatif dan kebencianku pada ibu, terutama ayah. Benar. Sudah seyogynya perceraian tidak menjadikan hubungan antara orangtua dan anak retak.

Serangkai Asa Untuk Melati

 

Pagi itu agak berbeda dari biasanya. Di dalam rumah suasana begitu sepi meski aku dapat mendengar dengan laju kendaraan yang lewat di pinggiran rel kereta api. Rumahku memang ada di dekat rel kereta api. Beberapa orang kadang memanggilku anak pinggiran kereta api. Aku tak terlalu suka panggilan itu. Tak apa, walaupun begitu mempunyai rumah di dekat rel kereta api juga menyenangkan. Kita bisa mendengar dan melihat kereta api saat dia lewat. Meskipun masih beberapa menit usai shubuh, biasanya jam segini di rumahku sedikit ramai karena komando seseorang. Hanz adik laki-lakiku baru saja keluar kamar mandi. Sedangkan aku baru saja merapikan kamarku. Aku masih saja merasa ada yang kurang. Aha! Aku baru teringat akan satu orang yang kurang dan sangat penting dalam hidupku. Ibu.

“Hanz, dimana ibu?” tanyaku.

“Tidak tahu kak. Dari tadi aku nggak lihat ibu,” jawab Hanz kemudian berlalu dari pandanganku dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.

Aku berjalan ke arah kamar ibu dan membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci. Kamar ibu gelap. Jendelanya belum dibuka walaupun kondisi lampunya sudah mati. Aku melihat ibu sedang berbaring di kasurnya yang sudah usang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Kemudian aku membuka jendela kamar ibu dan menyibakkan tirainya. Membiarkan udara dan cahaya matahari masuk ke kamar ibu. Sepertinya ibu pulas hingga tidak menyadari aku masuk kamarnya. Aku kemudian mendekati ibu dan memeriksa suhu tubuhnya. Panas.

“Ibu sakit?” tanyaku sambil menempelkan punggung tanganku ke kening ibu. Ibu perlahan ssmembuka matanya dan menatapku sayu. Ia mengangguk pelan.

“Mela, sudah sarapan?” tanya ibu lemah. Aku menggeleng. “maaf ya, ibu belum bisa masak untuk kalian hari ini,” kata ibu.

“Tidak mengapa ibu. Aku kan sudah bisa memasak. Aku akan menggantikan ibu. Aku akan memasak untuk ibu dan Hanz. Pokoknya ibu jangan khawatir ya,” kataku sambil membelai kepala ibu dan menciumnya sebagaimana ia memperlakukanku selama ini.

“Tapi kita nggak punya apa-apa lagi untuk diolah jadi makanan. Kulkas juga sudah rusak,” kata ibu lagi.

“Kita masih punya sisa tempe goreng dan tauco tahu. Biar Melati panasin. Kulkas nanti Melati bersihkan biar dia bisa normal lagi. Kulkas kita kan memang sering ngambek bu, hehehe,” kataku terkekeh. Ibu tersenyum.

“Makasih ya nak,”kata ibu.

“Sama-sama bu. Ibu cepat sembuh ya. Insyaallah nanti Melati akan carikan uang buat beli obat ibu,”

“Jangan mengambil hak orang lain ya nak,” kata ibu mengingatkan.

“Iya bu, tidak akan. Melati akan selalu ingat pesan ibu.”

Aku keluar dari kamar ibu. Hanz keluar dari arah dapur dan berjalan menghampiriku. “Kak, ibu sakit ya?” tanya Hanz. Aku mengiyakan. “Hanz hampiri ibu dulu ya. Oya kak, itu lauk udah Hanz panaskan. Tinggal dimakan aja. Bekal untuk kakak dan Hanz juga sudah Hanz siapkan,” kata Hanz.

“Duh, makasih ya Hanz udah inisiatif sama kerjaan rumah. Tapi nggak curang kan baginya,” godaku sambil memeluknya erat.

“Iya, iya. Tapi lepasin dulu pelukannya. Pengap tahu! Kakak kebanyakan pakai pewangi!” kata Hanz bercanda.

“Yeee..mana ada! Udah deh, kakak nyiapin sarapan untuk ibu dulu ya,” kataku melepaskan pelukanku. Hanz tertawa kecil. Kami kemudian berjalan ke tempat yang di tuju masing-masing.

Aku mengambil makanan untuk ibu dan membuatkannya segelas teh manis hangat. Aku juga menambahkan jeruk nipis untuk punyaku dan Hanz dan memberinya es batu yang hampir meleleh di kulkas kami yang rusak. Aku memang lebih senang mengolahnya menjadi nipis tea daripada teh manis biasa. Semua tergantung selera masing-masing sih.

Aku membawa makanan dan makanan untuk ibu ke kamarnya. Kulihat Hanz masih disana. Ia memberi minyak di kedua betis hingga tumit ibu dan memijatnya. Aku meletakkan makanan dan minuman ibu di dekatnya.

“Ibu,” panggilku sambil membangunkannya. Ibu membuka matanya. “ayo makan dulu. Makanannya sudah Mela siapkan,” kataku.

Ibu menatap makanan yang kuambilkan. “Ibu nggak selera makan, Mela,” kata ibu.

“Iya, karena ibu sakit jadi nggak selera apa-apa. Tapi ibu harus makan dulu biar perutnya nggak kosong,” kataku lembut.

“Iya bu. Nanti kalau ibu sakitnya makin parah, kita mau bawa ke rumah sakit pakai apa dong? Nggak mungkin kan tubuh ibu kita bawa pakai daun pisangnya pak Joko, hahahaha..” kata Hanz sambil tertawa.

Aku menatap Hanz. Aku tahu dia bercanda, namun tidak untuk saat ini. “Hanz,” tegurku.

Hanz langsung menghentikan tawanya. “Iya, iya deh. Aku salah. Maaf ya bu. Jangan diambil hati. Soalnya hati Hanz juga nggak bakalan buat ibu selera makan! Hahaha..dadah kak Melayu!” Usai mengatakan itu Hanz langsung keluar dari kamar ibu. Aku agak cemberut walaupun tertawa mendengar guyonannya. Ia memang suka bercanda. Namun apa maksudnya dengan kak Melayu? Apa karena ibuku orang melayu? Ah, keturunan kan mengikut dari ayah.

Aku kembali fokus pada ibu. Ibu masih belum mau makan. “Makan ya bu?” bujukku lagi padanya. Ibu menggeleng. “atau ibu mau Melati suapin?” tawarku.

“Kamu nggak berangkat sekolah? Kamu bisa terlambat kalau nyuapin ibu. Nggak usah pikirin ibu. Ibu bisa jaga diri ibu sendiri. Kamu sekolah aja,” kata ibu lemas. Aku melihat ke arah jam dinding. Sudah pukul 07:00 WIB. Dan aku tipe orang yang tidak bisa kompromi soal waktu. Hmm, ibu tahu saja kelemahanku..

“Melati nggak akan pergi sekolah sebelum lihat ibu habiskan makanan ibu!” kataku tegas. Aku harus memilih. Dan kesehatan ibu lebih penting dari segalanya.

Awalnya ibu tetap tidak mau. Mungkin ibu ingin melihat kesungguhanku. Namun, lama kelamaan ibu sepertinya luluh. Apalagi setelah mendengar teriakan Hanz yang berulang kali memanggilku untuk berangkat sekolah. “Kak Melati ayo cepat pergi sebelum terlambat! Kakak kira sekolah kita muat untuk jadi landasan helikopter apa!” teriaknya masih diselingi candaan.

“Muat. Sekolah kita kan kayak bandara Polonia!” balasku bercanda.

“Jangan main-main dong. Sekarang itu yang betul namanya bandara International Kuala Namu tahu!” katanya.

“Sejak dulu kakak sudah tahu Hanz. Bentar. Kakak mau nyuapin ibu,” kataku menghampirinya dan menjelaskan.

“Oke, aku tunggu. Cepat ya. Kalau tidak aku tinggal,” sahut Hanz.

“Tinggal aja kalau kamu takut terlambat,” balasku.

Ibu akhirnya mau makan makanan yang sudah kuambilkan untuk ibu. “Pergilah Mela, terimakasih sudah menyiapkan makan minum ibu,” kata ibu. Aku mengangguk.

“Melati pergi dulu bu,” kataku sambil mencium tangan dan pipi ibu. Kemudian aku mengucapkan salam dan pergi. Hanz berdiri di depan pintu rumah sambil berkacak pinggang.

“Lama kali kakak ini! Nanti terlambat kita,” katanya mencak-mencak marah. Aku tertawa melihat aktingnya.

“Kamu pasti belum salam ibu kan? Salam dulu sana!” kataku mengalihkan sambil mengambil tas sekolahku dan menliti kelengkapan isinya.

“Oh iya, lupa!” Hanz menepuk jidatnya. Lalu ia melepaskan sepatunya bututnya dan berlari menuju kamar ibu. Aku menunggu Hanz usai memakai sepatuku.

Kami pergi ke sekolah jalan kaki karena kami tidak punya alat transportasi apapun selain sepeda besar milik ibu dari pemberian almarhumah ibunya nenek ibu. Jarak  ke sekolah cukup jauh. Namun jalan kaki menurutku bukan masalah karena kami sudah terbiasa berjalan kaki sampai ke pusat kota sekalipun. Biasanya aku selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke titi gantung di Lapangan Merdeka ataupun toko buku murah dekat pajak Sambu. Perjalanan ke sekolah selalu diisi dengan cerita-cerita dan candaan agar lebih menyenangkan. Tak jarang kami menyapa orang yang sudah beberapa kali kami kenal di jalan. Keramahan memang menjadi salah satu ciri khas masyarakat Indonseia dan juga sudah mendarah daging dalam diriku. Ayahku meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan. Saat itu ia sedang kerja di kantornya di luar negeri dan berencana pulang ke Indonesia untuk menghabiskan jatah berliburnya bersama kami. Namun takdir tidak mengizinkannya bertemu kami. Karena itulah kami tidak pernah diantar ke sekolah oleh ayah. Padahal sebelumnya ayah selalu mengajak kami pergi bersama dengan bersepeda. Kata ayah itu lebih menyehatkan dan mengurangi polusi.

“Eh Hanz, ngomong-ngomong apa sih maksud kamu bilangin kakak Melayu?”

“Tapi janji ya, nggak marah,” kata Hanz santai.

“Hmm..oke deh,” jawabku cepat tanpa pertimbangan.

“Kakak ini gimana sih? Masa gak tahu. Melayu itu melati layu. Melati kan nama bunga, dan bunga bisa jadi layu. Makanya nama kakak Hanz bilang Melati layu. Karena kakak lele..” Sebelum Hanz melanjutkan kata-katanya aku sudah  berkacak pinggang dan memelototinya. “ingat ya, kakak udah janji nggak marah. Janji adalah hutang loh, ingat nggak,” katanya dengan cerdasnya sambil tersenyum nakal.

“Iya, tapi masa kamu tega bilangin kakak kayak gitu!” sungutku.

“Iya deh, maaf ya kak. Aku cuma bercanda. Kan hidup nggak mesti serius-serius aja,” kilah Hanz. Benar juga!

Sekolah kami sudah tampak di depan mata. Aku dan Hanz sama-sama melangkahkan kaki ke kelas masing-masing. Di kelas aku melihat Nina, sahabat sekaligus teman sebangkuku. Aku meletakkan tas ku di kursi dan duduk di sampingnya. Aku menyapanya. Namun Nina menanggapi dengan sedih. Ia hanya menoleh sebentar ke arahku dan kembali melamun menatap ke depannya.

“Nina, ada apa? Kamu terlihat sedih?” tanyaku.

“Tidak ada apa-apa Melati. Aku hanya bosan saja dengan hidupku,” jawab Nina.

Bosan dengan hidup? Aku menatap Nina yang masih melamun dengan wajah murung. Bagaimana mungkin anak konglemerat di depannya ini bisa merasa bosan dengan hidupnya yang penuh kemilau harta kekayaan bergelimpangan dan semua yang dia inginkan dapat dipenuhi.

“Kamu bisa menceritakan masalahmu padaku, mungkin aku dapat membantumu. Apa yang membuatmu bosan hidup? Kamu punya segalanya. Orangtua yang menyayangimu, kakak yang baik dan kehidupan yang serba berkecukupan.”

“Aku nggak yakin deh kamu bisa membantuku, Melati. Tapi aku mau cerita ke kamu tentang masalahku. Jadi begini, entah kenapa aku merasa akhir-akhir ini hidupku rasanya begini-gini saja. Nggak ada yang berubah. Dan aku merasa tidak puas dengan hidupku,” kata Nina.

“Sebelumnya terimakasih karena sudah mau percaya dan menceritakan masalahmu padaku. Eh, boleh nggak ya aku kasih masukan ke kamu?” tawarku semangat.

“Boleh. Apa tuh? Mungkin aku bisa mencobanya,” respon Nina.

“Kalau kamu bosan, coba berdiri dan lakukan sesuatu yang kamu suka. Atau mungkin kamu bisa pergi ke suatu tempat buat intropeksi diri. Apa yang sudah kamu lakukan selama ini. Apa kamu sudah melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk diri kamu kedepannya agar bisa menjadi lebih baik lagi. Bosan biasanya dikarenakan tidak tidak ada tantangan,” kataku.

“Nah, terus apa lagi?” tanya Nina penasaran.

“Kamu bisa melakukan banyak hal lain lagi. Kamu harus bersyukur atas nikmat yang kamu dapatkan selama ini karena mungkin di luar sana atau di sekitar kamu masih banyak orang yang lebih susah dari kamu. Mereka yang tidak kesusahan untuk mendapatkan makan, minum, dan hidup serba kesusahan.”

“Oke, nanti akan aku coba. Terimakasih Melati!” kata Nina.

“Sama-sama. Yang terpenting sekarang kamu nggak boleh sedih lagi, oke?” kataku. Nina mengangguk. Aku jadi teringat jawaban ibu saat aku bertanya kenapa ibu tidak sedih kami serba kekurangan, terutama setelah ditinggal ayah. Aku teringat kata-kata ibu. Benar kata ibu, kebahagiaan yang abadi itu hadir bukan dari dunia dan materi, tetapi hati dan ketenangan.

***

Saat itu aku sedang berada di kantin ketika Juna temanku lari tergopoh-gopoh menghampiriku yang sedang makan bersama Nina. “Lati..kam..hu..dipanggil..kepsek di kantor sekarang juga!” katanya.

Aku dan Nina berpandangan. Ada apa kepala sekolah memanggilku? “Oke, makasih Jun,” kataku.

“Ya, sama-sama,” katanya kemudian pergi.

“Nin, bentar ya. Aku mau ke kantor,” kataku pada Nina sambil menutup kotak bekalku.

“Kenapa tiba-tiba dipanggil kepala sekolah? Kamu ada buat apa?” Nina balik bertanya.

“Aku juga nggak tahu ada urusan apa. Udah ya Nin, tolong jagain bekalku ya,” kataku langsung meninggalkan Nina. Nina pun terlihat cuek dan kembali fokus pada makanannya.

“Melati, tolong bilang sama ibu kamu agar jangan lupa membayar uang iuran sekolah kamu dan Hanz. Ini sudah hampir setengah bulan belum dibayar,” kata kepala sekolah di inti pembicaraan.

Aku malu sekali. “Iya pak. Keuangan kami memang sedang tidak ada saat ini, tapi Melati akan segera mencari uang untuk pembayaran sekolah,” kataku di depan kepala sekola dengan optimis dan berusaha meyakinkan hatiku saat itu bahwa aku bisa.

“Loh, bukan. Katakan saja pada ibu kamu. Bapak bukan suruh kamu yang bayar,” kata kepala sekolah itu lagi.

“Ibu saya sedang sakit dan kami sedang tidak punya uang pak. Tidak mungkin saya membebani pikiran ibu saya lagi. Biarkan saja ini menjadi pembicaraan antara kita dan ibu saya tidak usah tahu,” jawabku.

“Wah, wah, dewasa sekali sikap dan jawaban kamu. Baik, bapak tunggu ya,” kata kepala sekolah.

Aku nggak butuh pujian dan penantian pak, tapi pelunasan. Batinku bercanda.  “Baik pak,” jawabku sambil tersenyum dan keluar dari kantor. Benar juga kata Hanz, tertawa, tersenyum dan bercanda kadang bisa menjadi obat saat ada kita ada masalah.

Aku langsung kembali ke kantin dan mendapati Nina masih asyik makan bekal makanannya. Ia tampak tidak berminat mencampuri urusanku. Mungkin karena dia juga banyak urusan. Aku pun tidak terlalu mau orang lain tahu.

“Sudah selesai?” hanya itu saja yang ditanyakan Nina padaku. Aku mengiyakan. Sedikit curiga kenapa dia tidak bertanya alasan kepala sekolah memanggilku.

Sambil makan, aku terus memikirkan bagaimana caranya aku mendapatkan uang untuk membayar iuran sekolah. Aku membuat beberapa opsi pilihan kerja yang dapat kulakukan saat ini. “Ti, salah masuk tuh makanannya,” tegur Nina saat aku ternyata nyaris salah memasukkan suapan makananku. Akhirnya nasi goreng yang kumakan mengenai pipiku bersama dengan cabainya.

“Aduh,” refleks aku mengaduh dan menyeka kotoran di pipiku dengan jemari.

“Jangan pakai tangan. Tangan kamu bisa kotor. Pakai tisu aja,” kata Nina sambil menyodorkan tisu miliknya.

“Terimakasih Nin,” kataku menerima sodoran tisu Nina dan mengelapnya ke pipiku yang terasa pedas, juga tanganku.

“Sama-sama,” balasnya sambil tertawa. “lagian kamu lagi mikirin apa sih, sampai nggak sadar kalau lagi makan. Ada masalah sepertiku ya?” tebak Nina.

“Ah, enggak. Bukan apa-apa,” kataku cepat.

“Yakin nih?” selidik Nina. Aku mengangguk, berusaha meyakinkan Nina. Akhirnya Nina mengangguk percaya.

***

Aku menceritakan tentang percakapanku dan kepala sekolah pada Hanz sambil berjalan pulang ke rumah. “Kakak rasa kita harus bantu ibu Hanz. Kita harus cari tambahan uang. Apalagi sekarang semua kebutuhan ekonomi naik,” kataku dengan serius di akhir cerita.

“Memang benar itu kak. Kakak harus kerja, biar aku saja yang nikmati uangnya, hehe..” canda Hanz.

“Hanz, aku tahu bercanda boleh. Tapi saat ini kakak sedang serius dan butuh pendapat kamu selaku saudara laki-laki kakak,” kataku.

“Iya deh..kakak jualan saja. Kakak kan pandai merajut. Nah, kakak bisa membuat berbagai macam barang kerajinan tangan hasil rajutan kakak,” kata Hanz cepat.

“Benar juga ya,” kataku berfikir sejenak. “tidak kusangka ternyata adikku sangat pintar.”

“Aku kan memang pintar,” Hanz membusungkan dadanya dengan bangga. Aku menyengir melihatnya. “nah, kakak bisa mengandalkan ponsel ibu untuk jualan di media sosial atau aplikasi belanja kak. Zaman semakin susah, tapi jalan juga harus mudah,” katanya lagi.

“Terus, kamu mau ikutan bantu juga nggak?” tanyaku.

“Tentu saja aku mau. Tapi kakak nggak boleh tahu sekarang.”

“Terserah kamu deh,” kataku menanggapi dengan malas.

Perjuangan untuk memulai bisnis yang baru dirintis memang tidak mudah. Apalagi jika kita mengharapkan pencapaian maksimal yang pesat. Semua itu tidak akan terjadi. Apalagi jika tidak dibarengi dengan kesungguhan dan ketekunan. Namun aku terus menekuni dan semangat menjual daganganku. Aku tidak peduli sesedikit apa keuntungan yang kudapat, yang penting daganganku laris di pasaran. Karena itu aku juga mencari barang yang bisa laku keras di pasaran.

Kalau untuk urusan berdagang, aku selalu memperhatikan orang-orang China dalam berdagang. Aku memang sangat salut terhadap orang China. Hampir seluruh produk yang digunakan orang merupakan buatan China. Pasar mereka ada dimana-mana. Bahkan hingga ke Timur Tengah sana, dan mereka juga berhasil menguasai perdagangan disana. Almarhum ayahku pernah berkunjung ke Tunisia dan membawa cenderamata serta oleh-oleh khas disana. Saat kulihat, cenderamata itu kebanyakan produk China. Aku geleng-geleng kepala saat melihat hal itu. Di Mesir, produk dan perdagangan pun sudah dikuasai dan didatangkan dari China, sehingga orang Mesir sering berceloteh.

“Kullu hagga bi Shien! Semuanya berasal dari China!”

Pun saat kebijakan ekonomi pemerintah Mesir semenjak presiden Gamal Abdul Nasser yang melarang investor Tiongkok menguasai ekonomi di Timur Tengah, Tiongkok tetap saja mengembangkan bisnis mereka dengan cara menjual barang secara asongan, dengan mengirimkan para pedagang mereka yang menjajakan barang dagangan. China memang selalu menjadi pedomanku dalam hal bisnis. Aku selalu berfikir, kenapa orang-orang pribumi tidak mencoba belajar saja dari orang-orang China dan beelajar untuk memakai produk lokal? Selain untuk membantu pedagang lokal, mereka juga turut membantu ekonomi masyarakat. Di tempatku sendiri, masih banyak para pengguna produk luar negeri dengan alasan kualitas produk lokal tidak sama dibandingkan produk luar negeri. Hal ini sepatutnya menjadi pelajaran buat para produsen untuk meningkatkan kualitas produknya. Rata-rata brand produk lokal yang berhasil hingga keluar negeri dikembangkan oleh orang China-Indonesia. Hal ini juga tidak lepas tangan dari kelihaian mereka dalam berdagang.

Beberapa minggu kemudian..

“Pak, maaf ya saya telat bayar lagi. Tapi saya sudah bertekad. Dan ini semua uang saya. Pas untuk bayar iuran saya dan adik saya beberapa bulan ini,” kataku suatu hari saat sudah mendapatkan uang yang cukup dari hasil jualan rajutanku dan robot Hanz. Aku menyerahkan uang yang sudah disusun itu kepada kepala sekolah

Kepala sekolah tampak tersenyum. “Luar biasa usaha kamu dan adik kamu, Melati. Saya sudah mendengar semuanya dari ibu kalian dan orang-orang terdekat kalian. Saya salut dengan semua ini. Tapi saya mau memberitahu kamu sebelumnya bahwa sebenarnya orangtua Nina telah membayarkan uang iuran sekolah untuk kamu dan adik kamu selama kalian sekolah disini. Orangtua Nina sudah bicara pada saya dan kalau kamu mau tahu alasannya, tanya saja pada Nina. Kedua orangtua Nina juga sedang membicarakan tentang tawaran mereka kepada ibumu di rumah kalian.”

Aku terdiam. Seperti tidak percaya rasanya dengan apa yang baru saja kudengar. Nina? Bagaimana dia bisa tahu tentang hal ini? Aku menatap kepala sekolah. Ingin cepat-cepat menyelesaikan pertemuan ini dan menemui Nina. “Kalau begitu, terimakasih banyak pak. Saya kembali dulu ke kelas,”

“Silahkan, dan ambillah kembali uang kalian. Kalian memang hebat,” puji kepala sekolah lagi. Aku mengucapkan terimakasih dan langsung melesat pergi meninggalkan kantor.

“Nina! Nina!” aku berseru mencari-cari Nina.

Kulihat Nina tampak tersenyum di taman sambil menungguku. Sepertinya ia sudah tahu. “Jelaskan padaku semuanya, Nin. Bagaimana kamu bisa tahu?” tanyaku penasaran.

“Hehehe, sebelumnya maaf ya. Aku sengaja bersikap tak acuh saat itu karena aku ingin menyelidikinya tanpa kamu tahu. Sebenarnya aku sudah tahu kalau kamu sedang ada masalah keluarga dari ekspresimu. Aku kagum sama kamu dan adik kamu. Kalian sangat akur walau sesulit apapun masalah kalian. Sedangkan aku dan kakakku selalu bertengkar. Aku iri loh jika melihat saudara yang bisa saling melengkapi seperti itu. Aku sudah menjalankan nasihat kamu dan nyatanya apa yang kamu katakan benar juga. Akhirnya aku menceritakan semuanya kepada orangtuaku termasuk keadaanku dan nasihatmu. Jadi anggap saja semua itu hadiah dariku karena kamu telah menyelamatkanku dari depresi. Haha..aku hampir stres soalnya waktu itu,” jelas Nina tersenyum senang. Aku jadi senang mendengarnya.

“Ah, kamu ini bisa aja. Aku sama adikku juga sering bertengkar kok walaupun kami tidak membiarkan diri kami larut bertengkar. Terima kasih banyak Nina!” Tidak kuat menahan rasa bahagia dan terima kasih, aku memeluk Nina senang. Nina membalas pelukanku.

“Semoga kamu suka dengan pemberianku ini ya Melati. Terimakasih atas inspirasi dan nasihatmu. Teruslah menjadi seperti namamu. Yang menjadi salah satu bunga puspa bangsa. Kau juga harus mengharumkan negeri ini dengan kata-katamu,” balas Nina menasihatiku.

“Iya Nina, terimakasih atas nasihatnya.”

Ada kalanya kita tidak tahu respon apa yang akan terjadi karena perbuatan kita. Bisa jadi itu membawa kita pada keburukan dan bisa pula kebaikan. Seperti kata pepatah, mulutmu harimaumu. Dan kita juga tahu bahwa celah lidah ada banyak, karena itu kita harus berhati-hati. Jangan sampai apa yang kita lakukan merugikan diri kita sendiri dan orang lain. Dan kita juga tahu sekecil apapun yang kita lakukan walaupun masih dalam hati, tetap akan dicatat. Sampaikanlah kebenaran sepahit apapun walaupun dunia mengecammu. Karena pada dasarnya masih banyak orang dengan hati bersih yang dapat menerima dan membela kebenaran yang kita katakan. Teruslah menebar inspirasi untuk semua orang. Sampaikanlah kebenaran kepada siapapun walaupun ia lebih kuat dan berkuasa darimu. Sebab kebenaran tidak memandang siapapun untuk melakukan hal yang benar dan kebatilan tidak memandang siapapun untuk berbuat batil.

Air Kehidupan

  Bagaimana Kita Tercipta? Pernahkah kamu bertanya-tanya, bagaimana awal mulanya kita bisa tercipta dan lahir dari rahim ibu? Kisahnya be...