Begitu Cepat

“Bu guru, nanti kita berenang lagi ya!” seru Varo girang saat aku membantunya mandi dan berganti pakaian saat sehabis berenang.

“Hmm..kalau dari sekolah kita sudah tidak ada kegiatan berenang lagi bang. Tapi bang Varo bisa ajak mama pergi berenang lagi kalau hari libur,” kataku padanya.

“Oh iya, ya. Nanti Varo ajak mama kesini lagi deh,” katanya menyungging senyum manisnya.

Hari ini aku cukup lelah dengan kegiatan outing class dari sekolah ke sebuah kolam renang. Sebenarnya tema minggu itu tidak terkait dengan air, api, dan udara, atau apapun yang berkaitan dengan kolam renang. Namun para guru sepakat untuk memasukkan kegiatan berenang ini ke dalam kegiatan olahraga.

Hal ini bermula ketika seorang anak protes ke mamaknya lantaran dia tidak pernah melakukan outing class dari TK. Tidak seperti kakak sepupunya yang masih sekolah di gedung yang sama. Selain itu juga karena banyak anak – anak murid yang minta request bertamasya.

Memang selama ini kegiatan outing class dan berpergian ditiadakan semenjak covid 19. Setelah diperbolehkan tatap muka pun, pihak sekolah masih khawatir untuk membawa anak – anak melakukan kegiatan outing class. Akhirnya setelah mendengar banyaknya permintaan untuk sekolah agar melakukan tour, kami sepakat untuk pergi ke kolam renang.

Sederhana. Namun bisa membuat mereka sangat bahagia dan menjadi topic trending diantara mereka berhari – hari sebelum hari H. Karena besarnya antusias anak – anak tersebut, orang tuapun akhirnya diperbolehkan untuk ikut juga jika ingin menemani. Termasuk ibu Varo tentunya.
Anak – anak TK memang biasanya menunjukkan ketertarikan yang sangat besar pada kegiatan belajar di luar ruangan atau pada saat bertamasya. Karena pada saat itu mereka bisa istirahat sejenak dari kebosanan mereka yang sehari – harinya belajar di dalam ruang kelas.

Varo adalah salah satu anak murid di sekolah tempat aku magang. Dia masih duduk di kelas TK A. Perawakannya kecil dengan wajah hitam manis khas India. Dia adalah anak tunggal yang telah lama dinantikan kedua orangtuanya, terlebih lagi ibunya. Karena itu tidak heran dia amat disayangi oleh ibunya. Hal ini terlihat ketika di berbagai acara, ibunya selalu menyempatkan diri untuk menikmati momen bersama anaknya. Meskipun anak tunggal yang disayangi, Varo tidak seperti kebanyakan anak – anak tunggal lainnya. İa tidak manja ataupun egois untuk mendapatkan sesuatu.

Rumah Varo berada di dekat sekolah. Setiap hari ia bersama seorang tetangga dekatnya yang juga muridku berjalan kaki ke sekolah. Dia anak yang baik, sopan, dan penurut. Dia juga supel dan ramah. Perawakannya yang menyenangkan membuat semua teman – temannya senang berteman dengannya. Para gurupun memiliki kesan yang positif terhadapnya.

Aku ingat sekali pada saat sesi perkenalan di awal – awal masuk sekolah, Varo termasuk anak yang berani dan percaya diri saat ditanya tentang identitas dirinya.

“Nama saya Al Varo. Saya tinggal di gang sebelah sekolah,” katanya saat itu. İa pun tidak malu saat ibu guru memintanya untuk bernyanyi ke depan di hari pertamanya sekolah. İa memiliki kepercayaan diri yang sangat baik.

Al Varo termasuk anak yang paling taat beragama. Biasanya pada saat sebelum masuk kelas, aku dan guru – guru yang bertugas piket untuk apel pagi akan bertanya kepada anak – anak tersebut tentang siapa diantara mereka yang sudah shalat shubuh dan tidak pernah bolong menjalankan kewajiban shalat lima waktu. Saat itu, semua anak – anak angkat tangan. Mungkin sebagian anak yang tidak mengerjakannya akan merasa malu jika tidak mengangkat tangan. Terlebih semua temannya unjuk tangan sementara dia tidak.

“Hayoo jujur. Siapa yang benar – benar shalat shubuh dan shalat lainnya? İbu guru tidak marah loh, kalau misalnya kalian tidak shalat. İbu hanya bertanya dan tidak akan marah. İbu malah akan sedih kalau kalian tidak jujur,” kataku pada mereka.

Perlahan, beberapa orang menurunkan tangannya. Hanya ada segelintir anak kurang dari lima yang tetap mengangkat tangannya. “Wah, masyaallah. Ternyata ada yang tadi pagi sudah shalat shubuh ya? İbu senang sekali karena kalian sudah jujur. Buat yang tadi pagi shalat shubuh, besok – besok tetap shalat ya. Buat yang belum, besok mulai dibiasakan ya. Minta bangunkan sama orangtuanya untuk shalat,” kataku kemudian.

Al Varo menjadi anak yang paling konsisten mengangkat tangan pada saat aku dan guru – guru yang lain bertanya tentang ibadah dan kewajiban lainnya. Hanya satu dua kali ia tidak shalat dikarenakan sakit. Awalnya, para guru tidak percaya bahwa ia setiap hari shalat shubuh berjama’ah di masjid, namun para warga sekitar memang memberikan kesaksian saat bercerita tentangnya, bahwa Al Varo memang anak yang rajin beribadah ke masjid.

Pernah suatu ketika masjid dekat sekolah mengadakan lomba tahfidz, azan, peragaan shalat dan fashion show. Al Varo dengan semangat menceritakan bahwa ia akan mengikuti lomba azan bersama seorang muridku. Hasil perlombaan mengungumkan bahwa mereka menang. Al Varo dan muridku itu mendapat hadiah sebuah peci. Dia dengan antusias menceritakan tentang perlombaan itu dan menunjukkan hadiahnya kepada kami.

Al Varo juga termasuk anak yang sangat gemar berbagi. İa sangat peka dan peduli terhadap kebutuhan teman – temannya. Pada saat ada temannya yang tidak membawa bekal makan, ia dengan rela memberikan jajanannya. İa tidak memberikan satu, namun sebungkus penuh untuk temannya yang tidak membawa bekal. Padahal guru – gurunya juga sudah mewanti – wantinya untuk memberikan sedikit saja. Namun dia tidak mau dan bersikeras memberikan lebih banyak.

“Tidak apa – apa bu, saya masih ada jajan lain.” Katanya saat kami menegurnya. Bukan apa – apa, kami hanya khawatir ia kurang dan kelaparan selama jam pelajaran kedua.

Tahun 2022, Varo bersama teman – teman seangkatannya melakukan wisuda. Tubuh mungilnya berbalut baju wisuda. İa mengenakan topi dan memegang toga. Pada sesi pemotretan ini, terlihat antusiasme ibunya Varo yang meminta secara khusus agar waktu acara wisuda bisa dimundurkan karena ibunya ingin berfoto dengan anaknya setelah cuti kerja setengah hari.
Pada saat pembagian raport, ia datang bersama ayah dan ibunya. Bocah kecil yang sangat baik itu tak henti – hentinya menyungging senyuman manisnya, terutama pada saat ia mendapat hadiah botol minum dan piala dari sekolah.

“Terimakasih karena sudah mengajar Varo, bu.” Katanya sambil memeluk dan menyalami kami satu persatu.

Terakhir kali aku melihatnya bermain di halaman masjid bersama tetangganya pada saat aku dan seorang rekan kerja sedang piket untuk penerimaan anak didik baru. İa terlihat malu pada saat aku menyapanya. Mungkin karena pada saat itu ia hanya menggunakan baju dalam dan celana pendek. Senyumnya masih sama seperti dulu dan tidak pernah berubah.
Namun takdir begitu indah terlukiskan. Siapa yang menyangka bahwa itu terakhir kalinya aku melihatnya masih dalam keadaan sehat sebelum sebuah tragedi memilukan terjadi.

Senin pagi aku melihat status WhatsApp kepala sekolah yang memposting foto wisuda Al Varo dengan caption perpisahan. Sontak aku kaget dan menanyakan apa yang terjadi kepada kepala sekolah kami. Ternyata Al Varo sudah meninggal kemarin sore, dan kepala sekolah semalam baru saja melayat ke rumahnya. Kabar yang dadakan itu membuat tidak semua guru bisa hadir dan dihubungi, karena besok paginya jenazah Al Varo akan segera dikebumikan. Karena jarak antara lingkungan rumahku dan sekolah hanya sejauh antara istana Maimun dan Masjid Raya, maka berita kematiannya pun menyebar cepat hingga aku tahu kronologi kejadiannya.

Pada siang itu Al Varo baru saja selesai shalat zhuhur di masjid ketika sang bunda lewat masjid dan hendak menjemput Al Varo untuk diajak pergi. Al Varo pun meminta request berenang ke kolam renang yang dia kunjungi bersama teman – teman TK nya dulu. Akhirnya mereka pergi kesana.
Kolam berenang tersebut ada dua tempat. Tempat pertama memiliki tiga kolam. Satu untuk anak – anak balita, kedua sedang, dan ketiga untuk orang dewasa. Sementara kolam berenang kedua hanya ada satu dan hanya untuk orang dewasa. Yang kemarin kami kunjungi, dan yang Varo kunjungi adalah kolam berenang di tempat pertama. Menurut pengakuan ibunya dan yang terekam dari kamera CCTV, saat itu ibu Varo memang terlihat ke kamar mandi. Varo saat itu duduk di dekat kolam renang sedang sambil makan pop mie. Kebetulan kolam renang yang sedang dan yang dewasa saling bersebrangan dan hanya berbatasan dengan beberapa keramik.

Tiba – tiba segerombolan orang dewasa atau anak remaja lewat dengan liar. Varo yang bertubuh mungil itu terpeleset dan tercebur ke kolam renang orang dewasa tanpa ada satupun orang dewasa di kolam renang itu yang menyadarinya. Pop mie nya terjatuh di lantai. Tubuhnya tenggelam. İa terlihat gelagapan hingga bahkan mie yang di mulutnya termuntahkan keluar karena ia sudah keminum banyak air kolam. Namun tetap tidak ada yang menyadari bahwa ia memerluka bantuan hingga tubuhnya mengambang dan beberapa orang melihat mie dari mulutnya yang mengambang di air.

“Eh, ada anak kecil tenggelam!!” seru orang – orang panik.

Suasana heboh terjadi. Tubuh Varo diangkat dan dibawa ibunya ke rumah sakit. Namun, takdir berkata lain. Karena pada saat di rumah sakit, Varo sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Aku yang mendengar berita itu menjadi sedih. Bukan hanya karena dia adalah salah satu anak murid terbaikku yang selalu patuh dan sopan. Melainkan aku juga sedih membayangkan perasaan ibunya saat melihat anak semata wayangnya meninggal di usia yang muda oleh kejadian yang tidak disangka – sangka. Al Varo adalah anak yang sudah lama dinantikan kedua orangtuanya sepanjang pernikahan mereka. Dan katanya ibunya memang tidak mempunyai anak lagi selain Al Varo.

Kabar itu sempat menghebohkan sebagian warga Medan. Pada saat aku berada di rumah sakit untuk menjenguk keluargaku yang sakit, aku kebetulan berpapasan dengan dua orang ibu – ibu yang saling kenal dan bertemu di rumah sakit. Kebetulan salah satu diantara mereka beralamat di dekat kolam renang tersebut, mereka mengobrol tentang kejadian Al Varo. 
Salah satu dari mereka sempat menyayangkan penutupan kolam renang karena kejadian itu. Aku sangat kecewa mendengarnya. Namun tidak ingin mendebat, biarkan saja mereka berpendapat.
Kolam tenang itu pun akhirnya ditutup oleh polisi. Namun, aku kecewa sekali karena tidak sampai sebulan, kolam renang itu dibuka kembali dan tetap beroperasi seperti biasa. Padahal, kematian Al Varo kembali mengungkap fakta bahwa Al Varo bukan korban yang pertama harus meregang nyawa di kolam renang itu. Sudah ada beberapa korban lainnya sebelum kami mengunjungi tempat itu. Tidak ada sikap bertanggung jawab dari pihak kolam renang. Seharusnya semenjak adanya korban yang pertama kali tumbang, pihak kolam renang semakin memperketat pengawasan dan pengamanan di setiap kolam renang. Karena sebelum dan sesudah kejadian, suasana kolam renang masih tetap sama. Tidak ada penjaga yang mengawasi kolam berenang tersebut.

Semenjak tragedi yang menimpa Al Varo, pihak sekolah sempat menjadi khawatir untuk mengajak outing class ke kolam renang. Namun tahun ini akhirnya kami melaksanakan kegiatan berenang juga di kolam renang lainnya dengan alasan. Kejadian Al Varo terjadi di luar kegiatan sekolah. Aku pun sudah menutup diri untuk datang ke kolam renang itu lagi. Walaupun harganya tiket masuknya cukup murah dan lokasinya yang dekat dari rumah, namun aku masih kecewa dengan kurangnya respon pihak kolam renang untuk memperketat penjagaan.

Al Varo... selama berbulan – bulan aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ia sudah tiada. Aku masih belum menerima kenyataan bahwa ia sudah pergi untuk selamanya. Begitu cepat. Hingga bahkan aku, para guru, dan mungkin juga ibunya tidak menyadari bahwa ia akan pergi dengan cara itu. Berulang kali aku meyakinkan diri bahwa dia memang sudah pergi. Bahwa semua ini adalah bagian dari takdir Tuhan. Bahwa kita tidak tahu ada rahasia apa dibalik setiap takdir yang sudah digariskan Tuhan untuk setiap manusia.
Al Varo, ibu yakin kamu sudah tenang di surga bersamaNya. Semua orang yang mengenalmu membicarakan kebaikan tentangmu. Orang baik akan ditempatkan di tempat yang baik. Kau adalah anak yang berbakti dan berbudi pekerti. Nak, terimakasih karena pernah hadir dunia ini. İbu sangat bersyukur bisa bertemu dengan anak teladan sepertimu. İbu belajar banyak tentang kebaikan darimu. Kau adalah salah satu guru kecil ibu yang sangat luar biasa hebat. İbu yakin, Allah sudah menyiapkan yang terbaik untukmu dan kedua orangtuamu. Mungkin kau adalah jembatan yang memudahkan kedua orantuamu menuju surga.

Selamat jalan Al Varo sayang, teladan dan kebaikan yang kau lakukan tidak akan pernah hilang meskipun kau sudah tiada.

Teori Big Bang dan Kebenaran Al-Qur'an

https://duniavinca.blogspot.com


 
Teori Big Bang atau Dentuman besar adalah sebuah teori yang menerangkan asal usul alam semesta. Teori ini mengatakan bahwa alam semesta ini pada awal mulanya adalah satu ( yaitu sebuah massa yang besar yang disebut nebula ) berdasarkan kajian kosmologi.

Dan hingga kini, teori Big Bang dianggap paling masuk akal dan lebih diterima. Kenapa? Karena ada beberapa bukti – bukti yang mengarah kesana, seperti temuan radiasi ruang angkasa. Dan para ilmuwan meyakini bahwa radiasi itu peninggalan dari Big Bang.

Dilansir dari buku Sains Qur’an Menakjubkan, menurut teori ini awalnya alam semesta padat dan panas. Lalu ia berkembang sampai sekarang. İbaratnya seperti adonan donat yang terus mengembang.

Alam semesta muncul sebagai “singularitas” sekitar 13, 7 milyar tahun lalu. Semua materi dan energi termampatkan dalam suatu zona kerapatan tidak terbatas. Dari singularitas ini, materi dan energi mengembang. Awalnya dalam waktu yang sangat besar seperti sebuah dentuman besar. Setelah itu era dominasi materi muncul. Lalu berlanjut pada proses dinamika pada awan materi (dukhan) sambil alam semesta terus mengembang.

Namun tahukah kamu bahwa jauh sebelum para ilmuwan menemukan tentang teori Big Bang ini, Al – Qur’an sudah lebih dulu menjelaskannya. Hal itu terdapat dalam QS Al – Anbiya’ ayat ke 30 yang berbunyi:
“Dan apakah orang – orang kafir itu tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian kami pisahkan antara keduanya; dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasa dari air; maka mengapa mereka tidak beriman”

Setelah terjadi ledakan besar, terbentuklah gumpalan asap yang sangat besar. Gumpalan asap itu berupa komposisi gas yang sangat rapat dan tidak tembus pandang, seperti yang dijelaskan oleh Winberg dalam bukunya yang berjudul Three Minutes, a modern View of the Origin Of the Universe. Dan kemudian dari gumpalan asap itu galaksi dan benda – benda langit lain pun tercipta.

Hal ini juga telah dijelaskan Allah dalam Al – Qur’an surah Fushshilat ayat 11 yang artinya ; “Kemudian dia menuju ke langit dan ( langit ) itu masih berupa asap...”

Lalu apa yang terjadi setelahnya?

Sebuah temuan baru ditemukan pada awal abad ke – 20. Orang yang menemukannya adalah seorang fisikawan asal Rusia dan kosmologi asal Belgia, Alexander Friedman dan George Lemaitre. Mereka menemukan fakta baru dan menghitung bahwa alam sementa ini tidak diam dan selalu bergerak dan terus berkembang dengan kecepatan yang sangat dahsyat. Para ilmuwan bahkan sampai menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta bagaikan permukaan dari balon yang sedang ditiup.
Seorang astronom Amerika, Edwin Hubble pada tahun 1929 sedang mengamati langit dengan telekopnya. İa menemukan fakta bahwa bintang – bintang dan galaksi terus bergerak dan saling menjauh. Hal ini menandai adanya proses pengembangan. Para peneliti menemuka bahwa di alam semesta terdapat sekitar dua triliun galaksi. Selain itu, masih ada juga triliun galaksi yang belum terdeteksi. Galaksi – galaksi itu diyakini suatu saat nanti akan kembali mendekat lalu menjadi padat sehingga terjadi lagi ledakan.

Tidak hanya Hubble, banyak ilmuwan lain yang membuktikan bahwa teori Big Bang itu benar. Seperti yang dikemukakan oleh fisikawan Jerman, Albert Einsten. Pada tahun 1900 – an, Albert Einsten menemukan persamaan dalam fisika yang dengan persamaan itu. Dia memprediksi bahwa alam semesta ini terus berkembang. Dari sinilah teori Big Bang berasal.

Berkembangnya alam semesta dan seisinya juga sudah tertulis dalam Al – Qur’an, jauh sebelum para ilmuwan mengungkapkan berbagai teori mereka. Hal ini bisa dilihat dalam surah Adz Dzariyat yang artinya berbunyi;

“Dan langit kami bangun dengan kekuasaan ( kami ), dan kami benar – benar meluaskannya,” ( QS Adz Dzariyat ayat 47 )

Seorang Profesor Geologi dan juga Kepala Departemen Geologi di Institute of Geosciences, Johannes Gutenber University, Mainz, Jerman yang bernama Dr. Alfred Kroner berkata. Bahwa tidak mungkin Rasulullah SAW mengetahui sesuatu seperti alam semesta ini berasal dari materi yang satu. Karena para ilmuwan saja baru tahu hal ini beberapa tahun yang lalu. İtu pun harus melewati berbagai penelitian yang rumit dengan teknologi yang canggih. Dia juga menambahkan, untuk seseorang yang tidak tahu apapun tentang fisika, apalagi 14 abad yang lalu, sangat mustahil bisa tahu hal ini dari hasil pemikirannya sendiri. Hal ini menjadi salah satu dari banyaknya bukti bahwa Al – Qur’an memang diturunkan oleh Allah melalui perantara Rasulullah. Dan bahwa Al – Qur’an bukan suatu perkataan asal – asalan dari seorang nabi yang ummi ( orang yang tidak bisa baca tulis )

Maha benar Allah dengan segala firmanNya..

Haru di Hari Sabtu

 
https://duniavinca.blogspot.com

My Diary, catatan yang sedikit terlupa..
Opung perempuan kami sudah meninggal sejak sebelum orangtuaku menikah membuatku tidak pernah sekalipun bertatap muka dengannya. Namun, aku masih punya nenek dari pihak ibuku. Karena itu sejak kecil aku dekat dengan nenekku.
Nenek adalah perempuan Jawa yang hebat dan kuat. Di umurnya yang semakin renta, nenek tidak pernah kulihat mengeluh tentang hidupnya yang penuh perjuangan. 
Nenek adalah seorang pedagang di kede sampah yang sudah ia bangun sejak kecil jauh sebelum menikah dengan atokku. Setiap pagi setelah shubuh, ia sudah siap dengan ember hitam nya, berjalan kaki seorang diri ke Pajak Brayan yang cukup jauh dari rumah kami kalah berjalan kaki.
Setiap hari, kami cucu-cucunya selalu datang ke kedainya untuk jajan. Jarang sekali kami harus bayar setiap Snack yang kami beli, karena itu aku bersyukur juga ketika nenek masih berjualan karena kami bisa jajan gratis 🤭
Nenekku sangat cerewet untuk hal-hal yang menurut nya bertentangan dengan prinsip nya atau pola hidup nya. Dulu, setiap ada cucu-cucunya yang melawan perintah orangtua kami, terutama ibu kami yang merupakan anaknya, nenek selalu menjadi banteng pengganti ibu kami. Dia akan memarahi kami habis-habisan, walau setelah itu nenek ngomong dengan lembut dari hati ke hati. Akan tetapi, semarah apapun, nenek tidak pernah melakukan kekerasan fisik. Entah memukul, mencubit, dsb. Karena seringnya nenek marah, aku pernah membandingkan nenekku dengan nenek tetanggaku yang tidak pernah segalak nenekku. Tapi nenekku bilang..
"Masih syukur nenek ngomel, itu tandanya nenek peduli sama kalian. Mau kalian nenek biarkan aja, nggak ada nenek nasihatin?" gitu kata nenekku selalu.
Waktu terus bergulir tanpa kusadari, aku semakin besar dan nenekku semakin tua. Takdir membuat aku harus berjauhan dengan nenek yang harus ikut paman kami ke Riau. Keadaan ini membuat aku perlahan-lahan mulai merindukan nenekku. Aku rindu walaupun pasti ada saja omelannya ketika bertemu dengan cucu-cucunya. Dan semenjak nenek tidak ada, aku sudah tidak pernah lagi jajan di kedainya.
Nenek ke Medan hanya dua kali dalam satu tahun setengah, namun nenek belum pernah datang saat momen hari raya karena  katanya saat itu banyak tiket yang sudah habis. Tiket yang masih tersisa sangat mahal. Saat nenek ke Medan, aku suka bertanya banyak hal tentang masa kecil nenek dan keluarganya. Tentang suami neneknya yang seorang veteran perang di Jawa. Tentang bagaimana neneknya nenek bisa pindah dari Jawa ke tanah Deli, padahal saat itu peperangan masih berlangsung dan Indonesia belum merdeka.
Beberapa bulan setelah bunda melahirkan adik terakhir kami, nenek menelepon dan mengatakan akan pulang ke Medan dalam rangka membantu bunda sehabis operasi sekaligus untuk berhari raya İdul Adha bersama kami tahun ini. Kami senang sekali menerima kedatangan nenek, apalagi dalam jangka waktu yang lama.
Namun besoknya, aku kaget ketika menjelang siang mendapat kabar dari PKBM bahwa besok pagi aku termasuk siswi yang wajib ikut Uji Kesetaraan Berbasis Komputer. Wah, aku sempat kesal dan panik karena informasi yang dadakan ini. Alasannya sederhana saja, nenekku baru pulang ke Medan dan aku masih mau menikmati liburan bersamanya, kedua aku juga belum tahu mana pelajaran apa yang akan kami ujiankan besok. 
PKBM kami memang terbilang unik, karena setiap ujian kami tidak pernah dikonfirmasi tentang mata pelajaran atau kisi-kisi soal yang nanti kami ujiankan. Aku kadang mangut juga dengan pendapat teman – teman di PKBM ku tentang jawaban ujian di PKBM kami.
“Nggak usah dipikirin. Jalani aja dulu, jawab aja yang terlintas di pikiran.”
Enteng juga jawabannya, pikirku. Tutor PKBM kami pun selalu mengatakan hal itu. Di dalam ujian, kami wajib menjawab. Tidak boleh ada yang ketahuan kosong, karena soal yang tidak diberi jawaban tidak akan diberi nilai. Sebagian teman – temanku yang mengikuti pola pikir emang gue pikirin akan mengampanyekan jawaban cap cip cup. Namun aku tidak sepemikiran, apalagi kalau itu soalan essai.
“Apa yang mau dijawab?” Gitu pikirku selalu.
“Duh nek, Yumna besok udah ujian. Mana belum belajar lagi!” curhatku malam hari pada nenekku. Kebetulan nenekku sangat pandai dalam soal matematika, walaupun ia hanya tamatan SD.
“Jangan terus dipikirin dan dibuat pusing. Belajar aja dari sekarang. Dan jangan lupa berdoa agar dimudahkan segala urusannya,” kata nenek memberi wejangan.
Kelihatannya aku yang panik karena mau ujian, tapi nyatanya tidak. Nenekku yang lebih sibuk dan terus mengingatkanku tentang ujian besok.
“Yumna, cepat tidur! Besok jam setengah tujuh udah harus ke PKBM,”
“Yumna, jangan lupa perlengkapan apa aja yang harus dibawa,”
“Yumna...”
Dan banyak lagi omelan – omelan kecil nenekku untuk sekedar mengingatkanku persiapan ujian. Aku diam – diam terkikik. Aku bukan tipe orang yang mengerjakan segala sesuatu lambat atau santai. Sebenarnya aku sudah mempersiapkan perlengkapan ujian, tinggal soal ujiannya aja yang aku belum tahu, hehe..
Pagi itu..
Nenek membangunkanku pagi-pagi buta hanya untuk sekedar mengingatkanku tentang persiapan ujian. Bukan hanya itu, nenek membangunkanku dengan membalur kakiku dengan minyak sambil terus ngomong agar aku cepat bangun.
"Yumna cepat bangun! Jangan marah ya kalau nanti terlambat."
Setelah aku selesai apel pagi, nenek masuk ke kamar sambil membawa sepiring nasi. "Makan dulu sebelum pergi, biar adik-adik nenek yang handle pagi ini," kata nenek.
Aku senang sekali. Untuk pertama kalinya nenek begitu mengesankan dan perhatian terhadap kegiatan ujian ku. Bundaku, dan juga aunty ku memang sering bercerita kalau nenek sangat perhatian terhadap kebutuhan anak-anaknya. Apalagi jika hal itu menyangkut masalah pendidikan. 
Mungkin bagi sebagian orang, hal ini terlihat biasa. Namun tidak bagiku. Saat nenek membangunkanku lebih awal dari yang lain karena akan ujian, seperti mengulang kembali kenangan saat aku masih duduk di kelas 1 sekolah dasar. Biasanya bunda akan membangunkanku untuk pergi ke sekolah. Namun, karena sekarang amanah bunda sudah bertambah, hal seperti itu sudah tidak terulang lagi. Kini, aku yang harus melakukannya kepada adik-adikku.
Terima kasih nenek untuk sabtu pagi yang begitu mengesankan.
Medan, 6 Mei 2023

Romance Between Me and Hijab

https://duniavinca.blogspot.com

İni adalah lanjutan dari artikelku yang sebelumnya yang berjudul My First Jilbab. Bedanya, kali ini aku akan menceritakan kisah pengalaman antara aku dan jilbabku. 
Oke, selamat membaca🤗.

Kisahku Dengan Jilbab

Aku tidak memiliki banyak lika liku saat harus memakai jilbab setiap keluar rumah ataupun ketika bertemu dengan non mahram. Awal mula kisahku dengan jilbab bermulai sejak aku masih bayi merah. Kata bunda, dulu bunda sudah mulai memperkenalkanku dengan jilbab sejak bayi sebagai upaya pembiasaan agar ketika aku sudah dikenakan hukum wajib memakai jilbab, aku sudah terbiasa dan tidak terkejut lagi. Katanya juga, aku adalah anak perempuannya yang paling tidak rewel saat bunda pakaikan jilbab sejak dini.

Banyak yang dilakukan bunda sebagai upaya mengenalkan jilbab kepadaku sejak. Saat aku bayi, bunda mencoba memakaikan jilbab bayi saat bunda berpergian bersamaku, dan hasilnya. Aku tidak rewel ataupun memberontak. Sejak saat itu bunda selalu memakaikan jilbab kepadaku setiap keluar rumah.

Saat aku duduk di usia PAUD, bunda mulai memberikan pemahamanku tentang apa itu berjilbab dan kenapa aku harus memakai jilbab. Aku masih ingat saat bunda mengikuti kelas menjahit bersama temannya, bunda membuatkanku jilbab berwarna putih dengan tulisan ‘Menutup aurat sepanjang hayat’ dengan kain flanel berwarna merah dan hijau. Bunda juga sering membawaku ke toko jilbab untuk membeli jilbab untukku. Disana aku bebas memilih jilbab yang kuinginkan.

Saat kecil dulu aku pernah bertanya kepada bunda, kenapa teman – temanku yang lainnya hanya mengenakan jilbab jika ke sekolah dan membuka jilbab mereka selain ke sekolah?

Lalu bunda memberikan pemahaman kepadaku bahwa mungkin saja teman – temanku tidak tahu dengan perintah berhijab. Apalagi di tahun itu belum banyak pemahaman tentang berhijab dan pengguna hijab masih belum banyak. Dan memang perintah wajib berjilbab diberlakukan bagi wanita yang sudah baligh / sudah berakal. Bunda juga memberi pilihan bahwa aku juga boleh melepas jilbab kalau aku kepanasan atau belum mau.

Namun aku menolaknya. Tidak ada alasan bagiku untuk melepas jilbab, pikirku saat itu. Entah kenapa aku sama sekali tidak berniat memakai jilbab setengah – setengah seperti kebanyakan teman – teman sebayaku. Lagipula aku juga sudah nyaman. Maka sejak saat itu aku tidak pernah melepas jilbabku.

Apakah aku tidak pernah mendapat tantangan dalam berjilbab?

Meskipun anggota keluargaku mendukung penggunaan jilbab, bukan berarti aku tidak pernah mendapat tantangan saat menggunakan jilbab. Dulu pernah ada anak laki – laki remaja yang mencoba mengganggu dan memegang – megang jilbabku saat aku pulang sekolah di salah satu TK. Aku sering pulang sendiri karena jarak antara TK dan rumahku lumayan dekat. Dibatasi oleh gang panjang, jalan besar untuk menyebrang, dan pinggiran rel.

Atau ketika aku juga pernah mencoba pulang berjalan kaki dari sekolahku di Deli Serdang ke rumahku di Medan Timur. Cuaca yang panas, ditambah umurku yang masih sekitar tujuh atau delapan tahun membuat aku kegerahan memakai jilbab. Dan banyak lagi tantangan menggunakan jilbab yang aku dapatkan. 

Aku tahu, tantangan berjilbab yang kurasakan, belum seberapa jika dibandingkan dengan semua muslimah berjilbab lainnya. Karena itu aku salut sama mereka dan semoga mereka tetap semangat dan konsisten dengan jilbabnya.

Jilbab, budaya Arab/Timur Tengah?

Perlu diluruskan, bahwa berjilbab merupakan salah satu perintah Allah kepada wanita muslimah. Dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan budaya Arab atau Timur Tengah. Karena sebelum Islam datang, tidak ada budaya berjilbab di masyarakat Arab. Dan jika kita mau melihat lebih jauh, sebenarnya di Arab tidak seperti di Indonesia.

Anak – anak di Timur Tengah tidak memakai jilbab di kehidupan sehari – hari maupun sekolah. Meskipun tidak ada larangan memakai jilbab di sekolah. Hanya satu dua siswi ataupun anak perempuan yang mau memakai jilbab di kehidupan sehari – hari.
Dan pemakaian jilbab di Arab dan di Indonesia juga berbeda. Orang – orang di Timur Tengah kebanyakan memakai jilbab kain yang dililit seperti yang biasa dipakai oleh perempuan Turki yang sering tidak menutupi dada. Mereka tidak memakai jilbab yang panjang seperti kebanyakan masyarakat Indonesia.

Syarat Memakai Jilbab

Meskipun begitu, para wanita muslim tidak sepatutnya memakai jilbab dengan berkiblat seperti jilbab yang dikenakan oleh orang Arab ataupun berpaku pada kiteria jilbab suatu negara. Karena semuanya kembali lagi pada ketentuan mengenakan jilbab seperti yang diperintahkan yaitu :

- Menutupi seluruh tubuh kecuali yang boleh ditampakkan seperti wajah telapak tangan

- Jilbab harus lapang dan tidak menampakkan lekuk tubuhnya dan tidak boleh memakai jilbab yang tipis atau transparan

- Memakai jilbab bukan dengan maksud sebagai hiasan untuk dirinya, sehingga dimakruhkan memakai kain yang berwarna mencolok atau kain yang penuh gambar dan hiasan

- Tidak menyerupai pakaian laki – laki

- Tidak boleh memakai wewangian atau parfum yang bisa memikat lawan jenis

- Hijab yang dikenakan tidak sobek atau memperlihatkan bagian tubuh ataupun perhiasan perempuan

- Hijab itu tidak memperlihatkan sedikitpun bagi kaki wanita

Sekian sampai disini pembahasan mengenai jilbab. Mungkin ada yang mau teman – teman tambahkan mengenai penjelasan di atas. Semoga informasi tadi bisa membantu teman – teman yang muslim untuk sekedar sharing dan agar lebih mengenal tentang jilbab dan aturan dalam memakai jilbab. Dan ini mungkin bisa menjadi informasi baru bagi teman – teman yang non muslim.

My First Jilbab

 
https://duniavinca.blogspot.com

Apa Itu Jilbab?

Dikitip dari Wikipedia, jilbab adalah busana muslim terusan panjang yang menutupi seluruh badan kecuali tangan dan wajah. Penggunaan jilbab berkaitan dengan tuntutan syariat Islam untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat.

Dalil Tentang Perintah Mengenakan Pakaian yang Menutupi Aurat

“Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda – tanda kekuasaan Allah. Mudah – mudahan mereka selalu ingat.” ( QS Al – A’raf : 26 )

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA. İa menceritakan bahwa saudara perempuannya, Asma’ binti Abu Bakar masuk ke rumah Rasulullah dengan berpakaian tipis. Maka rasulullaah pun berpaling dari Asma dan bersabda,

“Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haid ( sudah baligh ), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini. Beliau mengisyaratkan wajah dan kedua telapak tangannya.” ( HR. Abu Dawud )

Ayat Tentang Perintah Berjilbab

 “Wahai Nabi ( Muhammad ), katakanlah kepada istri – istrimu, anak – anak perempuanmu, da istri orang – orang mukmin agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” ( QS Al – Ahzab : 59 )

Beberapa Manfaat Memakai Jilbab Bagi Kesehatan

Umat Islam meyakini bahwa Allah mengatur segala hal untuk kebaikan manusia. Termasuk seperti perintah berjilbab. Dibalik apa yang Allah perintahkan, pasti ada alasan dibaliknya.

Kenapa perempuan diwajibkan berhijab sementara laki – laki tidak? 

Karena secara fisik laki-laki dan perempuan memang berbeda. Sehingga tugas dan tanggung jawabnya juga berbeda-beda. kulit wajah wanita ternyata lebih tipis daripada laki-laki sehingga lebih berisiko pada kanker kulit. Dan tubuh wanita lebih sensitif dibandingkan laki – laki. 

Seperti yang pernah aku baca dibuku bahwa siklus menstruasi dapat mempengaruhi kantong – kantong ASI pada ibu menyusui. Rahim sebelah kanan menghubungkan payudara sebelah kiri, dan sebaliknya, rahim sebelah kiri menghubungkan payudara sebelah kanan. ASI dilindungi oleh enzim dari seluruh tubuh. Manfaat berjilbab bagi kesehatan wanita melindungi enzim tersebut supaya tidak pecah yang langsung terdapat antibodi dan antibiotik.

Dan dibandingkan dengan laki – laki, wanita lebih beresiko terkena penyakit kanker kulit. Selain dikenal sebagai salah satu penyakit mematikan di dunia, kanker kulit juga dapat berkembang di jaringan tubuh manusia termasuk kulit. Dengan memakai jilbab, kulit akan lebih terlindung dari efek buruk sinar UV. Sehingga dapat meminimalisir terkenanya resiko kanker kulit.

Jilbab juga bisa meminimalisir terkena penyakit Solar Keratotes atau Peradangan Kulit Luar. Penyakit ini disebabkan oleh seringnya terpapar sinar matahari dengan waktu lama. Manfaat jilbab bagi kesehatan akan melindungi kulit dari sinar matahari dapat menggunakan tabir surya.

Berikut adalah beberapa manfaat berjilbab

1. Melindungi kulit dari paparan sinar matahari

2. Cegah peradangan kulit luar ( solar keratos )

3. Bebas gatal akibat matahari ( solar urticaria )

4. Meminimalisir resiko terkena penyakit kanker kulit

5. Antibodi bagi wanita

6. Melindungi dari udara panas dan dingin

Oke, lanjut part dua tentang pengalaman dan tantangan ku saat memakai jilbab ya 🙂


Maria Al - Qibthiyah

Maria Al - Qibthiyah
https://duniavinca.blogspot.com


Kita telah banyak mendengar tentang kisah para istri Rasulullah SAW. Dari mulai Khadijah binti Khuwailid, Saudah binti Zama’ah, Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar, Zainab binti Khuzaimah, Zainab binti Jahsy, Juwairiyyah binti Al – Harits, Shafiyyah binti Huyay, dan Maimunah binti Al – Harits. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa Maria ( begitu ia dipanggil ) adalah salah satu wanita yang beruntung mendapatkan pasangan hidup seorang Al – Amin, Muhammad SAW.

Nama lengkapnya adalah Maria binti Syama’un Al – Qibthiyah. Dia adalah seorang wanita yang sangat cantik yang berasal dari suku Qibthi di Mesir. Ia berasal dari sebuah desa bernama Anshina yang terletak di daerah yang disebut Hafn di negeri Mesir. Ayahnya adalah seorang pria asal suku Qibthi, Mesir. Maria mewarisi kecantikan ibunya yang merupakan wanita Romawi. Ia berkulit putih mulus, dengan rambut ikal panjangnya yang indah. 

Di balik keindahan parasnya, ternyata Maria adalah seorang hamba sahaya di kerajaan Alexandria. Ia menjadi pelayan istana yang saat itu dipimpin oleh seorang raja bernama Muqauqis bersama adik perempuannya, Sirrin. Seperti yang kita tahu di zaman nabi Muhammad, rata – rata orang Mesir adalah penganut agama Kristen Koptik. Yang merupakan agama kristen kuno yang berkembang secara luas di Mesir. Raja Muqauqis dan Maria juga termasuk penganut agama kristen koptik.

Maria adalah gadis yang sangat sopan dan haus akan ilmu. Meskipun berstatus seorang pelayan yang berkedudukan rendah di istana, Maria tidak pernah menjadikan itu sebagai alasan untuk tidak bisa belajar. Waktu luangnya dipergunakan untuk belajar hal – hal baru dari ahli kitab istana dan juga pendeta. Ia juga kerap membaca banyak buku dan belajar otodidak. 

Kisah Maria Al – Qibthiyah bertemu nabi Muhammad SAW adalah di saat Rasulullah SAW mengirimkan utusan ke kerajaan Alexandria pada bulan Dzulqa’dah tahun 6 Hijriah. Rasulullah mengutus seorang sahabat bernama Hathib bin Abi Baltha’ah untuk menjadi duta ke kerajaan raja Muqauqis. Suratnya berisi tentang ajakan nabi Muhammad kepada penduduk Alexandria untuk memeluk Islam. Selain kepada kerajaan Alexandria, nabi Muhammad juga mengirimkan surat ke kerajaan lain seperti raja Najasyi di Habasyah ( Ethiopia), Heraclius raja Romawi, Kisra di Persia, dan beberapa pemimpin Arab dahulu.

Setelah menerima surat dari nabi Muhammad SAW, raja Muqauqis segera berunding dengan para petinggi di istana. Banyak yang menolak ajakan Rasulullah untuk memeluk agama Islam, termasuk raja Muqauqis sendiri. Dikarenakan para petinggi istana dan juga raja Muqauqis masih belum tergerak untuk memeluk Islam. Selain itu, kristen koptik juga merupakan agama turun temurun rakyat Mesir saat itu.

Untuk menghormati nabi Muhammad SAW, raja Muqauqis mengirimkan beberapa hadiah kepada nabi Muhammad berupa kuda, keledai, emas, sutra, dan lainnya termasuk Maria dan Sirrin. Keduanya juga akan dijadikan hadiah kepada nabi Muhammad.

Singkat cerita, Maria dan Sirrin masuk Islam lewat perantara Hathib sebelum mereka tiba di Madinah. Rasulullah SAW menghadiahkan Sirrin kepada salah seorang penyair Islam terkemuka di masa itu, yaitu Hassan bin Tsabit. Sebelum akhirnya Rasulullah menikahi Maria, beliau terlebih dahulu mengenalkan dan mengajarkan Islam lebih dalam lagi kepada Maria.

***

Rasulullah tidak memiliki seorang anakpun dari istri – istrinya selain Khadijah. Akan tetapi kesemua anak laki – laki Rasulullah dan Khadijah wafat saat mereka masih bayi. Anak perempuan Rasulullah juga wafat saat mereka sudah dewasa sebelum Rasulullah meninggal, kecuali Fathimah Az – Zahra yang meninggal beberapa bulan setelah wafatnya Rasulullah. 

Namun, ternyata Rasulullah SAW pernah memiliki anak laki – laki dari Maria Al – Qibthiyah yang diberi nama Ibrahim. Berita tentang Maria yang mengandung putra Rasulullah menyebar luas saat itu termasuk ke telinga para Ummahatul Mu’minin ( istri – istri Rasulullah ). Hal ini tentu saja membuat mereka cemburu kepada Maria karena bisa memberikan Rasulullah keturunan. Sebagai manusia biasa, wajar para istri Rasulullah cemburu. Karena sejatinya seorang wanita yang sudah menikah tentunya ingin membahagiakan suaminya dan bisa memberikan suaminya keturunan. 

Suatu malam di bulan Dzulhijjah tahun 8 Hijriah, Maria melahirkan anak lelakinya yang diberi nama Ibrahim oleh Rasulullah. Nama Ibrahim berasal dari nama nenek moyang nabi Muhammad yang juga seorang nabi, yaitu Ibrahim. Proses kelahiran Ibrahim bin Muhammad dibantu oleh Salma, istri Abu Rafi’, salah satu sahabat Rasulullah. Kelahiran Ibrahim membebaskan Maria dari statusnya sebagai hamba sahaya. 

Seperti kebiasaan yang terjadi di Arab kala itu, seorang anak yang baru lahir akan diasuh dan tinggal di rumah ibu susunya selama dua tahun. Lalu setelah habis masa penyususan, mereka akan dikembalikan lagi kepada orangtua mereka. Biasanya mereka mencari perempuan dari perdesaan. Hal itu bertujuan agar anak mereka bisa berbahasa Arab yang tulen dan juga mendapatkan udara yang lebih baik dibandingkan dengan perkotaan. 

Maka tatkala Ibrahim lahir, para perempuan kaum Anshar berlomba – lomba untuk menawarkan diri mereka kepada Rasulullah untuk menjadi ibu susu Ibrahim. Namun Rasulullah menolaknya dengan halus.
Rasulullah memilih Ummu Saif, istri dari sahabatnya ( Abu Saif ) yang seorang pandai besi. Hal itu dilakukan sesuai perintah dari Allah. Rasulullah menitipkan putra nya itu kepada Ummu Saif agar dirawat sebaik – baiknya selama masa penyusuan. Rasulullah juga memberikan sebanyaknya tujuh ekor kambing betina yang gemuk kepada Ummu Saif, agar Ummu Saif dapat memerah susu kambing tersebut dan memberikannya kepada Ibrahim saat air susu Ummu Saif kering.

Namun tak lama berselang, Ibrahim yang masih kecil sakit. Hal itu tentu saja membuat Rasulullah, terlebih lagi Maria sedih. Ibu mana yang tidak sedih menyaksikan anaknya yang masih kecil harus menanggung rasa sakit dan tergolek lemah di pembaringan? Maria tak henti – hentinya menemani Ibrahim. 

Dari hari ke hari kondisi Ibrahim semakin lemah hingga akhirnya pada tanggal 10 Rabiul Awwal tahun 10 Hijriah, Allah memanggil Ibrahim keharibannya. Ibrahim kecil yang baru berusia 16 bulan itu meninggal di dekapan Rasulullah, ayahnya. 
Maria menangis tatkala mengetahui anaknya meninggal. Namun ia hanya bisa pasrah dan menguatkan hatinya terhadap takdir yang telah Allah tetapkan. Sirrin menemani Maria kakaknya di saat – saat yang berat itu. Ia menghibur Maria dan meyakinkan Maria bahwa Ibrahim sudah tenang di surga. Dia meminta Maria untuk bertawakkal kepada Allah.

“Sesungguhnya Ibrahim memiliki ibu susu di surga yang akan menyempurnakan sisa penyusuannya. Ia adalah orang yang membenarkan risalahku dan termasuk orang yang mati syahid,” hibur Rasulullah kepada Maria.

Jenazah Ibrahim dimandikan oleh Al – Fadhl bin Abbas. Rasulullah yang memimpin shalat jenazahnya. Ibrahim dimakamkan di pemakaman Baqi’. Pemakaman Baqi’ merupakan pemakaman bagi para sahabat Rasulullah dan semua istri – istrinya kecuali Maimunah. Konon Ibrahim adalah orang kedua yang dimakamkan di tempat itu setelah sahabat Rasulullah, Utsman bin Mazh’un.

Pada saat kematian Ibrahim, terjadi fenomena alam. Yaitu gerhana matahari. Awalnya para sahabat mengira dan mengaitkan semua ini karena kematian Ibrahim. Namun Rasulullah dengan tegas membantahnya. Rasulullah mengatakan :

“Sesungguhnya gerhana itu adalah salah satu tanda – tanda kebesaran Allah. Ia tidak ada hubungannya dengan kematian seseorang..”

Setahun setelah wafatnya Ibrahim, Rasulullah juga wafat setelah berhari – hari jatuh sakit. Maria dan istri – istri Rasulullah yang lainnya setia menemani beliau di saat – saat terakhirnya di rumah Aisyah, salah satu istri beliau. Namun kondisi Rasulullah semakin melemah hingga pada 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriah, Rasulullah menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Aisyah.

Setelah wafatnya Rasulullah, Maria tidak pernah menikah lagi dengan orang lain. Hal itu sesuai dengan firman Allah bahwa tidak boleh menikahi istri – istri Rasulullah selama – lamanya setelah beliau wafat.

Maria jarang meninggalkan rumahnya kecuali untuk berziarah ke makam Rasulullah dan putranya Ibrahim ataupun umrah. Ia juga lebih sering menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah.

Lima tahun setelah wafatnya Rasulullah, Maria menginggal dunia pada tahun 16 Hijriah. Umar bin Khattab selaku Amirul Mukminin mengumpulkan kaum muslimin untuk menshalatkan jenazah Maria. Maria, wanita Qibthi yang sangat taat itu dikebumikan di pemakaman Baqi’ bersama sesama orang – orang terpilih lainnya.

Suara Yang Tertahan

https://duniavinca.blogspot.com



 Tahun ini RA di tempat aku magang kekurangan kelas karena ada anak – anak dibawah umur kelas TK yang ikut mendaftar. Faktor lainnya karena ketidakseimbangan jumlah murid pendaftar untuk TK B. Akibatnya ada salah satu kelas yang memiliki dua tingkatan. Yaitu kelasku dan seorang rekan kerjaku. Dikarenakan muridnya yang sedikit, di kelas itu ditempatkan aku dan anak – anak usia tiga tahunan dengan kondisi keterlambatan bicara dan masalah lainnya.
Di tempatku mengajar, tidak sedikit anak – anak yang sering curhat tentang masalah mereka denganku. Aku tidak tahu kenapa. Entah karena hanya kebetulan, mereka memang suka bercerita kepada siapa saja, atau karena aku satu – satunya guru disana yang lebih terlihat berbeda dari guru – guru yang lain karena bersedia ikut dalam beberapa permainan mereka. Contohnya saja seperti sepak bola, dan masak – masakan ( ini kulakukan sambil menemani anak muridku yang khusus speech delay dan masih berumur tiga tahun kurang sambil terus mengajak mereka berbicara ).
Biasanya mereka akan curhat secara privat. Yaitu mendatangiku saat aku sedang sendiri ataupun saat kebetulan aku bersama mereka tanpa sepengetahuan guru mereka. Tahun ini aku mendapatkan anak – anak yang lebih luar biasa dan kritis dari tahun – tahun sebelumnya. Mereka suka menceritakan dan mengkritik perlakuan orang – orang dewasa, dan orang tua mereka yang dinilai kurang baik menurut sudut pandang mereka. Meskipun masih kecil, aku akui pengamatan mereka sangat tajam dan mereka memang benar.
Kyara ( bukan nama sebenarnya ), adalah salah satu anak murid perempuanku yang terkenal pendiam namun mudah diajak untuk bersosialisasi, sering curhat denganku menceritakan tentang kondisi di rumahnya. Curhatannya kadang tidak sesuai untuk anak seumurannya.
“Umi ( panggilan untuk guru RA ), ayah sering marah – marah di rumah sama Kyara..” katanya suatu hari memulai curhat.
“Oya? Wah, kenapa ayah memarahi Kyara, ya? Apa Kyara ada buat salah sama ayah?” tanyaku menanggapi ceritanya.
Ia menggeleng. “Ayah tadi juga ada marahi Mamak di depan Kyara,” katanya menambahkan.
“Kenapa?”
“Karena Kyara pergi sama Mamak ke rumah nenek ( ibu dari mamaknya Kyara ). Adik juga ikut. Kami naik becak karena ayah nggak mau nganter. Tapi pas pulang ayah marah – marah. Ini gara – gara nenek ( ibu dari ayah Kyara ) bilang ke ayah, Mamak mau ngajak Kyara pergi nemuin pacarnya. Padahal mamak nggak punya pacar..” ceritanya panjang lebar. Aku masih mendengarkan ceritanya.
Aku kira hari ini ia akan curhat seperti biasa, namun nyatanya tidak. “Tadi ayah juga ada mukul Kyara,” lanjutnya dengan suara serak yang tertahan. Mata beningnya mulai berlinang. Meski begitu, ekspresinya tampak biasa saja. Seolah hendak menutupi perasaan dan emosinya yang hendak diluapkannya.
Aku memeluknya dan mengelusnya. “Mana yang dipukul ayah?” tanyaku pelan.
“Ini,” ia menunjuk tangan dan kakinya. Aku memeriksanya. Merah. Aku mengambil minyak balur milikku yang sengaja kubawa dari rumah untuk berjaga – jaga dan mengoleskannya di bagian yang ditunjuk Kyara.
“Ada lagi?” tanyaku. Ia menggeleng.
“Kyara nggak suka ayah marah – marah,” katanya dengan nada tidak suka.
“Kalau ayah marah – marah, Kyara bilang sama ayah ‘Ayah janganlah marah – marah. Kan ada hadits nya, jangan marah bagimu surga’. Okey?” kataku tersenyum simpul ke arahnya. Ia mengangguk.
Untuk curatan anak – anak seperti Kyara, tak jarang aku terkadang juga konsultasi terhadap rekan kerjaku maupun orang yang lebih tahu dariku tentang bagaimana cara menghadapi anak – anak dibawah umur yang curhat tentang perkara orang dewasa yang sejatinya tidak untuk dikonsumsi seumuran mereka.
Aku teringat cerita atasan kami kalau ibunya Kyara pernah curhat sekali tentang masalah rumah tangganya. Ibu mertuanya tidak menyukai menyukai ibu Kyara dan sering mengadu domba antara ayah dan ibu Kyara. Banyak lagi masalah yang terjadi antara ibu Kyara dan mertuanya.
Padahal kalau dilihat sekilas, ibunya Kyara tampak biasa saja. Ia sering tersenyum dan juga memiliki sikap dan hubungan yang baik dengan guru – guru, orang tua / wali murid, juga kepala sekolah. Ibunya Kyara juga termasuk ibu yang rajin. Setiap hari, hanya Kyara dan seorang teman laki – lakinya yang konsisten membawa bekal makanan dari rumah. Entah itu nugget dengan berbagai bentuk yang berbeda setiap harinya, mie gomak, dsb.
Sejatinya, konflik yang terjadi diantara pasangan suami istri atau pihak ketiga lainnya tidak seharusnya dilakukan di depan anak – anak. Karena mereka secara sadar ataupun tidak akan merekam apa yang mereka lihat sehari – hari di lingkungan terdekatnya. Hal ini juga bisa membentuk karakter seorang anak.
Ketika ia melihat banyak kekerasan yang terjadi di sekitarnya, ia akan menganggap hal itu wajar dan akan mencoba melakukannya kepada orang dibawah dan terdekatnya. Seperti adiknya, tetangganya, ataupun teman – temannya. Tidak bisa menutup kemungkinan bahwa korban juga akan bisa melakukan hal yang sama dengan pelaku. Lama kelamaan perlakuan buruk akan menyebar di lingkungan masyarakat dan menjadikan terbentuknya circle negatif.
Lanjut part dua ya..


Dari Tugas sampai Game ASUS Siap Temanin

   Coba aku tebak: kalian lagi baca ini sambil laptop atau HP-nya lemot, kan? Atau mungkin baterainya cuma bertahan 2 jam pas lagi meeting p...